Mengenal Maanta Pabukoan, Tradisi Sayang Ibu Mertua Saat Ramadan di Ranah Minang

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 23 Februari 2025 | 13:03 WIB
Ilustrasi tradisi maanta pabukoan (Cakrawala Nusantara)
Ilustrasi tradisi maanta pabukoan (Cakrawala Nusantara)

KLIK SAJA - Bulan Ramadan selalu membawa nuansa tersendiri bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang sangat kental tradisi KeIslamannya.

Selain sebagai bulan suci yang penuh berkah, Ramadan juga ternyata menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan bagi masyarakat Minang.

Salah satu kebiasaan unik yang masih lestari hingga kini adalah Maantaan Pabukoan, yaitu tradisi berbagi yang dilakukan oleh seorang menantu perempuan pada saat bulan ramadhan kepada mintuo nya alias sang ibu Mertua.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Haroa di Muna dan Buton Sambut Bulan Suci Ramadan, Unik dan Penuh Kekeluargaan

Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah lama dan mengakar dalam masyarakat Minangkabau untuk melakukan silahturami dan mengajarkan saling berbagi antara kedua belah pihak keluarga melalui sistem perkawinan.

Tradisi maantaan pabukoan ini sebenarnya sangatlah sederhana, dimana filosofi yang terkandung tidak hanya mengantarkan makanan kerumah mintuo maupun kerumah mamak, namun juga memiliki makna dari segi nilai islam seperti adanya nilai-nilai berbagi, ketataan dan kecintaan kepada mintuo maupun ke orang yang lebih tua, dan sekaligus cerminan ketaatan sang istri kepada suaminya.

Maantaan Pabukoan berasal dari kata maantaan (mengantarkan) serta pabukoan (makanan untuk berbuka puasa).

Biasanya, makanan yang kerap diantarkan adalah hidangan khas Minangkabau seperti lamang (lemang), rendanggulaisambal lado, atau kue-kue tradisional seperti lapis sarikaya dan bika.

Tradisi Maantaan Pabukoan biasanya dimulai beberapa jam sebelum waktu berbuka puasa.

Sang menantu di rumah akan sibuk menyiapkan hidangan yang akan diantarkan.

Baca Juga: Mengenal Festival Meriam Karbit Ramadan di Kota Pontianak, Menggelegar Hebat di Sepanjang Sungai Kapuas

Makanan tersebut lalu dibungkus dengan rapi menggunakan daun pisang atau wadah tradisional seperti rantang.

Tradisi ini tidak hanya dilakukan kerumah mintuo alias mertua tapi juga bisa di kita lakukan kepada kerabat kita (bako). 

Pabukoan tersebut akan diantarkan kerumah mamak atau yang bisa disebut kakak laki-laki dari ibu.

Secara tradisi, biasanya yang mengantarkan pabukoan adalah kamanakan yang belum menikah dan biasanya ditemani dengan kemanakan perempuan yang masih anak-anak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X