Acara kemudian diawali dengan pembacaan doa dan tahlil setelah salat Isya, kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan kepada seluruh yang hadir.
Masyarakat Ngawi menggelar acara syukuran dengan membuat dan membagikan makanan tradisional, seperti apem, kolak, dan ketan.
Makanan-makanan ini memiliki makna simbolis, semisal apem yang berasal dari kata "afwan" (maaf dalam bahasa Arab) melambangkan permohonan maaf kepada sesama sebelum memasuki bulan suci.
Kemudian kolak, yang manis, melambangkan harapan akan kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Haroa di Muna dan Buton Sambut Bulan Suci Ramadan, Unik dan Penuh Kekeluargaan
Tradisi ini menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga, sekaligus mengingatkan pentingnya persiapan mental dan spiritual ketika menyambut Ramadan.
Megengan tidak sekadar tradisi seremonial, namun juga memiliki makna filosofis yang dalam.
Tradisi ini sarat mengajarkan pentingnya "menahan diri" dari hal-hal yang tidak baik, baik secara fisik maupun emosional.
Maka dengan demikian, Megengan menjadi semacam latihan untuk menghadapi puasa Ramadan, di mana umat Islam diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan perbuatan tercela mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.***