Saat ini tradisi Saparan bukan hanya sekedar sebagai rasa syukur kepada tuhan atas melimpahkan hasil panen.
Akan tetap juga sebagai ajang silaturahmi dengan teman maupun saudara sehingga tali persaudaraan tetap terjaga. Bahkan biasanya ramainya melebihi saat hari raya Idul Fitri tiba.
Dalam perayaan Saparan, sebuah desa akan nandak atau menggelar kesenian seperti wayang kulit, atau pentas seni lainnya.
Biasanya ini dapat berlangsung selama beberapa hari tergantung dari desa itu sendiri.
Pun setiap desa memiliki hitungannya masing-masing dalam menentukan tanggalnya, sehingga tidak dilakukan serentak.
Desa-desa yang masih terus melaksanakan tradisi Saparan di Magelang ini antara lain yang berada di wilayah kecamatan Ngablak, serta kecamatan Pakis bagian wetan dan beberapa daerah lainnya.
Sehingga pada bulan Safar jalanan akan terasa lebih ramai dari biasanya.
2. Nyadran (Sadranan)
Baca Juga: Wellness Tourism, Mengenal Potensi Wisata Kebugaran di Indonesia
Lalu untuk tradisi kedua yang masih terus lestari di kabupaten Magelang adalah nyadran atau Sadranan.
Nyadran adalah tradisi yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan.
Yang mana umumnya tradisi ini dilangsungkan pada bulan Rojab dan sya’ban atau Ruah dalam bulan Jawa.
Nyadran biasanya dilakukan dengan berziarah ke makam leluhur desa serta makam keluarga.
Pada dasarnya nyadran sendiri adalah hasil akulturasi antara budaya Jawa dengan Islam.
Yang unik, masyarakat akan membawa kenduri menggunakan tenong ke makam, dan setelah selesai tahlilan, kenduri akan dimakan bersama keluarga.
Tradisi nyadran baik di bulan Rojab maupun sya’ban hampir sama, hanya perbedaan waktu penyelenggaraannya saja.