Orang tua Ical, terutama Daus Mini, menyadari bahwa anaknya mengalami masalah serius di sekolah.
Daus berusaha untuk memberikan dukungan moral kepada Ical agar tetap kuat menghadapi situasi tersebut.
“Saya selalu bilang ke Ical untuk tidak peduli dengan omongan orang lain,” jelas Daus dalam sebuah wawancara.
Namun, dukungan dari orang tua saja tidak cukup untuk mengatasi rasa sakit hati yang dirasakan Ical.
Ia merasa bahwa teman-teman sebayanya tidak memahami apa yang dia alami.
“Mereka hanya melihat fisik ayah saya tanpa tahu siapa saya sebenarnya,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Ical mulai belajar untuk menghadapi bullying tersebut dengan cara positif.
Ia mencoba untuk fokus pada hal-hal yang disukainya, seperti bermain musik dan menggambar.
Baca Juga: Review Film The Count of Monte Cristo (2024), Sebuah Film Presisi dari Karya Alexandre Dumas
“Saya menemukan kebahagiaan dalam hobi-hobi saya,” kata Ical dengan senyuman kecil.
Meskipun pengalaman pahit itu masih membekas dalam ingatannya, Ical berusaha untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya dengan semangat baru.
“Saya ingin menjadi orang yang lebih baik dan membuktikan bahwa saya bisa sukses meskipun ada banyak rintangan,” tegasnya.
Ical berharap bahwa cerita hidupnya bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak lain yang mungkin mengalami hal serupa.
“Jangan pernah menyerah meskipun banyak orang yang merendahkanmu,” pesannya kepada teman-teman sebayanya.