KLIK SAJA - Sosok tokoh Kabayan, si bujang lugu dari tanah Sunda, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.
Karakter yang terkenal jenaka dan cerdas ini sering hadir dalam berbagai media, mulai dari film, cerita rakyat, hingga komik.
Salah satu ciri khas penampilan Kabayan yang paling mudah dikenali adalah tutup kepala yang selalu ia kenakan.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa penutup kepala tersebut memiliki nama dan filosofi yang unik. Penutup kepala itu dikenal dengan sebutan totopong.
Totopong adalah ikat kepala tradisional khas Sunda yang memiliki kemiripan fungsi dengan blangkon dari Jawa Tengah dan udeng dari Bali.
Meski fungsinya serupa—sebagai penutup kepala laki-laki tradisional—totopong memiliki karakteristik yang membedakannya dari keduanya.
Apabila blangkon dan udeng dibuat dalam bentuk yang ajeg (tetap), totopong justru memiliki fleksibilitas bentuk yang kaya.
Bahkan, ada tujuh variasi bentuk totopong yang masing-masing memiliki makna dan estetika tersendiri, antara lain barambang semplak, parekos nangka, parekos jengkol, tutup liwet, lohen, porten, dan kole nyangsang.
Totopong terbuat dari kain batik bermotif khas Sunda yang berbentuk persegi, biasanya berukuran 50×50 cm.
Kain ini dililitkan dan dibentuk secara manual di kepala, memungkinkan variasi bentuk yang menunjukkan identitas, kreativitas, atau bahkan status sosial pemakainya.
Motif-motif batik pada totopong juga memperkuat nilai estetika dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi juga kerap menggunakan Totopong dalam setiap acara formal dan non formal.
Pengakuan resmi terhadap totopong sebagai bagian dari identitas budaya Sunda semakin diperkuat pada tahun 2012, ketika Pemerintah Kota Bogor memperkenalkannya kepada wisatawan mancanegara sebagai ciri khas baru masyarakat Sunda Bogor.
Sejak saat itu, totopong mulai sering dikenakan dalam berbagai kegiatan formal, termasuk upacara adat, acara kenegaraan, hingga pertunjukan budaya.