Mengenal Tradisi Haroa di Muna dan Buton Sambut Bulan Suci Ramadan, Unik dan Penuh Kekeluargaan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 23 Februari 2025 | 05:10 WIB
Tradisi Haroa yang dilaksanakan warga Buton (keraton news)
Tradisi Haroa yang dilaksanakan warga Buton (keraton news)

KLIK SAJA - Masyarakat Indonesia dikenal dengan keragaman budaya dan tradisinya, termasuk ketika  menyambut bulan suci Ramadan.

Di Pulau Muna dan Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, terdapat sebuah tradisi unik yang disebut Haroa dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.

Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat setiap menyambut bulan Ramadan.

Haroa bukan hanya bernilai religius, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dan semangat kebersamaan yang kental.

Baca Juga: Mengenal Festival Meriam Karbit Ramadan di Kota Pontianak, Menggelegar Hebat di Sepanjang Sungai Kapuas

Haroa pada prinsipnya adalah tradisi syukuran yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Muna dan Buton untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.

Kata "Haroa" sendiri berasal dari bahasa Wolio (bahasa yang digunakan oleh masyarakat Buton), yang memiliki arti "perayaan" atau "syukuran".

Tradisi ini biasanya dilakukan jelang beberapa hari sebelum bulan Ramadan dimulai dan melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Pada tradisi Haroa akan disajikan makanan berupa sepiring nasi minyak tertutup telur yang berada ditengah talang dan kue tradisional berupa onde-onde, wajik (waje), ubi goreng (ngkaowi-owi), cucur (cucuru), kue beras (baruasa), pisang goreng (sanggara), kue pasta (epu-epu), dan bolu serta Manu nasu wolio (ayam masak khas wolio) yang disajikan dalam cangkir.

Sajian tersebut kemudian akan diletakkan di wadah bernama Tala (talang berkaki) dengan penutup yang oleh masyarakat Liya menyebutnya dengan katubangko.

Baca Juga: Melihat Potret Suasana Ramadan di Australia, Sangat Multikultural dan Semarak

Menariknya, sajian ini akan berbeda yang meliputi tata letak/piranti saji maupun perbedaan jumlah kuliner yang didasarkan pada status sosial.

Bahkan, pada beberapa wilayah memiliki tata cara pengisian talang yang berbeda-beda, misalnya masyarakat Wajo-Lamangga, Melai, Wameo dan Kadolo.

Begitu pula ada perbedaan jumlah setiap makanan yang akan disajikan, yaitu satu piring untuk satu jenis makanan dan berjumlah ganjil jika Haroa tersebut untuk bulan baik sedangkan untuk Haroa orang yang telah meninggal jumlah sajian akan berjumlah genap.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Wikipedia

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X