Para pelaku kerap menggunakan iklan lowongan kerja di media sosial atau situs web pencarian kerja untuk menarik calon korban.
Maka setelah tertarik, korban biasanya diminta membayar biaya administrasi atau pelatihan yang tinggi sebelum diberangkatkan, hanya untuk mendapati bahwa pekerjaan tersebut tidak ada atau jauh dari yang dijanjikan.
Bahkan pada beberapa kasus, pelaku perdagangan orang menggunakan dokumen palsu untuk membawa korban ke luar negeri.
Mereka bahkan bisa memalsukan visa, paspor, atau dokumen lain yang diperlukan untuk perjalanan.
Korban kerap tidak menyadari bahwa mereka terlibat dalam kegiatan ilegal hingga sudah terjebak dalam situasi yang berbahaya.
Baca Juga: Terungkap Ribuan WNI Terlibat Operator Judi Online yang Dijalankan di Filipina dan Kamboja
Beberapa pelaku juga menargetkan keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi anggota keluarga mereka, terutama perempuan dan anak-anak.
Mereka berusaha meyakinkan keluarga untuk mengizinkan anggota keluarganya pergi ke luar negeri dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Namun, setelah tiba di lokasi tujuan, korban justru dieksploitasi atau dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat buruk.
Modus lain yang sering ditemukan adalah eksploitasi seksual, di mana korban, biasanya wanita, diperdagangkan untuk dijadikan pekerja seks di negara tujuan.
Pelaku sering kali menjebak korban dengan janji cinta atau hubungan romantis, lalu membawa mereka ke tempat yang tidak aman di mana mereka justru dipaksa untuk melayani klien.
Perdagangan anak adalah salah satu bentuk perdagangan orang yang paling tragis dan memperhatinkan.
Anak-anak acapkali dijadikan alat untuk eksploitasi seksual, kerja paksa, atau dijual ke keluarga yang tidak mampu untuk diadopsi secara ilegal.
Modus ini tentunya melibatkan jaringan yang lebih besar dan seringkali beroperasi di daerah yang minim pengawasan hukum seperti negara-negara Asia Tenggara.
Pemerintah serta organisasi non-pemerintah di berbagai negara terus berupaya untuk mengatasi masalah perdagangan orang.