Biaya hidup dan biaya membesarkan anak yang relatif tinggi di negara-negara maju ini membuat sebagian orang berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk memiliki anak.
Pilihan childfree dianggap sebagai alternatif yang sah untuk mencapai stabilitas finansial dan fokus pada pengembangan diri.
Meskipun demikian, bukan berarti pilihan childfree sepenuhnya tanpa stigma di negara-negara ini.
Masih ada sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata atau mempertanyakan keputusan tersebut, terutama dari generasi yang lebih tua.
Namun secara umum, toleransi dan penerimaan terhadap pilihan childfree di negara-negara dengan tingkat individualisme tinggi cenderung lebih besar dibandingkan dengan negara-negara lain.
2. Perspektif di Negara-negara dengan Budaya Kolektivis dan Pro-Natalis yang Kuat
Berbeda dengan negara-negara individualis, di banyak negara dengan budaya kolektivis yang kuat, terutama di Asia, Afrika, dan sebagian Amerika Latin, tekanan untuk menikah dan memiliki anak seringkali sangat besar.
Dalam budaya kolektivis, keluarga dan komunitas memiliki peran yang sangat penting.
Memiliki anak seringkali dianggap sebagai kewajiban sosial, penerus garis keturunan keluarga, dan sumber dukungan di hari tua.
Nilai-nilai tradisional dan agama juga seringkali mendorong pernikahan dan kelahiran anak.
Pilihan untuk childfree di negara-negara ini bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim, egois, atau bahkan melanggar norma-norma sosial yang berlaku.
Individu atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak mungkin menghadapi berbagai macam tekanan dan stigma dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.
Mereka mungkin dianggap tidak memenuhi ekspektasi keluarga, tidak berkontribusi pada pertumbuhan populasi bangsa, atau bahkan dianggap tidak lengkap sebagai seorang manusia.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi, pandangan terhadap pilihan childfree di negara-negara dengan budaya kolektivis ini juga perlahan mulai berubah.
Urbanisasi, peningkatan tingkat pendidikan perempuan, dan perubahan nilai-nilai sosial mulai memberikan ruang bagi individu untuk mempertimbangkan pilihan hidup yang berbeda.