Ia bekerja seperti cermin retak dengan menampilkan banyak sudut, banyak versi kebenaran, dan banyak pertanyaan yang tidak selalu enak dijawab.
Film ini juga memasukkan konflik digital, sebuah arena baru di mana cinta bisa diretas, disabotase, atau dipertanyakan oleh orang asing di kolom komentar.
Seperti versi 2006, film ini tetap punya:
- humor kecil yang menyelamatkan,
- momen ironi yang bikin ngelus dada,
- dan kehangatan karakter yang membuat penonton tetap peduli meski ceritanya pahit.
Baca Juga: Review Film 'Aftersun' (2025), Kisah Ayah dan Anak yang Sederhana Tapi Menggetarkan
Film ini tidak menggurui, ia hanya mempersilakan kita duduk, menonton, dan menemukan refleksi kita sendiri.
Rating
Baca Juga: Review Film 'If I Had Legs I’d Kick You' (2025), Membuka Mata Tentang Tekanan Ibu dan Standar Sosial
8.4/10.
Tidak semua film yang berat harus bikin penonton pusing.
Nia Dinata berhasil meramu kritik sosial, drama rumah tangga, dan keintiman karakter menjadi satu formula yang berjalan mulus, padat, tapi tetap renyah untuk dinikmati.***