Pertarungan yang menyertainya dikoreografi secara mahir dengan realisme yang lugas dan intens, memperlihatkan Num menusuk beberapa musuhnya tanpa keraguan.
Untuk beberapa saat, eksekusinya berjalan sangat baik, hingga Ploensang memutuskan untuk memperpanjang alur balas dendam tersebut demi memuat lebih banyak eksposisi pada babak kedua, mencoba menggali masa kecil Num lebih dalam.
Kilas balik berikutnya memperlihatkan bagaimana Num muda (Kantapong Phetsitthawee) sudah menjadi remaja pemarah yang rentan terhadap kekerasan di panti asuhan.
Cerita ini juga menghadirkan rekan protagonis bernama Kong (Chaiwat Thongsaeng), seorang polisi jujur yang memiliki masalahnya sendiri.
Kong kelak bersinggungan dengan Num, meski konflik di antara mereka terasa agak berlebihan.
Review
Walaupun hal ini dimaksudkan untuk membangun gesekan mendasar yang memperdalam karakter keduanya, fokus utama Num untuk melacak Po (Daou Pittaya Saechua)—putra pembangkang dari tokoh kuat Madam Pin (Nuanprang Trichit) sekaligus pemimpin sindikat lintah darat—terasa seperti dikesampingkan.
Terlepas dari kekurangannya, film ini tetap menjadi tontonan yang cukup menarik, sebagian besar berkat penampilan utama Kugimiya yang menguras fisik namun menyentuh secara emosional.
Ia memberikan bobot emosional yang sangat dibutuhkan pada karakternya.
Sangat menyegarkan melihat karakter yang tidak digambarkan "tak terkalahkan", meskipun ia adalah seorang ahli pertarungan jarak dekat dan penguasaan senjata.
Beruntung, film ini juga berhasil membangun klimaks berisiko tinggi di babak ketiga, saat Num yang babak belur menghadapi Po dan anak buahnya seorang diri.
Jadi tunggu apa lagi, yuk kita tonton aksi si jagoan Num dalam The Debt Collector di Netflix.***