Di luar sana, sang pemburu kejam diperintahkan untuk mencari orang lain yang memiliki golongan darah langka tersebut, sebelum akhirnya ia diperintahkan mencari siapa yang telah membawa lari Lhan dan mengembalikannya ke Thailand.
Tujuan sang bos kejahatan kelas atas hanya satu: dapat menguras darah Lhan kapan saja ia membutuhkannya.
Review
Namun, film ini dengan cepat melupakan sosok bos kejahatan yang berpengaruh tersebut dan justru teralihkan oleh dinamika hubungan yang berkembang antara Lhan dan Pran.
Kendati demikian, daya tarik utama (raison d'être) dari My Dearest Assassin terletak pada adegan-adegan aksinya yang sangat intens dan bombastis; di mana darah menyembur dengan estetis dan tulang-tulang dipatahkan dengan frekuensi yang mengerikan.
Yang tak kalah mengejutkan adalah betapa seringnya ledakan dipicu, memicu kobaran api luas yang melahap orang-orang maupun bangunan di sekitarnya.
Pada hakikatnya, My Dearest Assassin adalah sebuah melodrama yang mengusung semangat genre heroic bloodshed ala sinema Hong Kong, khususnya pada akhir era 80-an dan awal 90-an.
Keteguhan trio Lhan, Pran, dan M diuji berulang kali, sering kali lewat alur twist yang hanya akan mengejutkan jika Anda belum pernah menonton film bergenre heroic bloodshed sebelumnya.
Kehadiran adegan adegan montage yang berulang serta konflik hubungan yang tak terlalu penting membuat durasi film ini membengkak hingga 127 menit.
Namun, seperti kata pepatah: untuk sebuah film yang memuaskan, tidak akan pernah ada kata terlalu banyak darah, terlalu banyak baku tembak, atau terlalu banyak penjahat yang bangkit kembali dari kematian, yuk tonton filmnya di Netflix.***