Tanpa sepengetahuannya, Ploy sebenarnya adalah target pembunuhan, dan Thee dijebak untuk menanggung tuduhan itu.
Ketika ia dikhianati, Thee justru menyelamatkan Ploy dan melawan para penyerang.
Ia membawa Ploy melarikan diri kembali ke rumah keluarganya, namun hal itu justru membuka tabir jaringan kekuasaan dan korupsi yang membuat ia dan keluarganya menjadi target berikutnya.
Paman mereka dibunuh oleh para pembunuh bayaran, dan kedua bersaudara itu berduka. Dengan bantuan Ploy dan dokter Tionghoa bernama Si Fu (Ooi Teik Huat), mereka bertekad membalas dendam.
Review
Vengeance of an Assassin merupakan film aksi yang tidak hanya menjadi penutup karier Panna Rittikrai, tetapi juga menjadi testamen dari betapa inovatifnya sang koreografer laga dalam menciptakan aksi fisik yang nyata, mentah, dan spektakuler.
Film ini menghadirkan energi khas era keemasan film laga Thailand, dengan penggunaan stunt praktis tanpa CGI berlebihan—sebuah pendekatan yang membuat setiap adegan terasa penuh risiko dan intensitas.
Dan Chupong tampil impresif sebagai Thee. Gaya bertarungnya eksplosif, lincah, serta penuh dedikasi fisik—menggambarkan tipe jagoan klasik ala Rittikrai yang bertarung sampai napas terakhir.
Beberapa adegan, seperti perkelahian di lapangan sepak bola dan aksi tembak-menembak di rumah keluarga Thee, menjadi highlight yang banyak dipuji penggemar genre aksi Asia.
Walau plotnya sederhana dan terkadang klise, film ini unggul berkat koreografi pertarungan tangan kosong, adegan laga satu pengambilan yang memukau, serta penghormatan terhadap gaya aksi tradisional Thailand yang kini semakin jarang muncul dalam film modern.
Sebagai karya terakhir Rittikrai, film ini terasa seperti salam perpisahan penuh adrenalin dari seorang maestro aksi yang pengaruhnya mendunia.***