Film ini memilih untuk tidak memberi “score musik ringan” yang biasa, melainkan menggunakan suara atmosferik yang meresap ke tulang gemeretak, derit, detak jantung yang terasa.
Kamera sering dekat sekali dengan wajah Linda, mendekat ketika ia kelelahan, menjauh ketika ia hampir menyerah.
Kombinasi visual-suara ini membuat film menjadi pengalaman yang bisa membuat penonton berdetak sama dengan karakternya.
Rating
Meski mendapat pujian kritis tinggi—seperti skor Tomatometer 93 % di Rotten Tomatoes, namun ada penonton yang merasa filmnya terlalu menekan, terlalu gelap, terlalu “real” hingga terasa berat.
Baca Juga: BRI Menang Besar di ASRA 2025, Dari CEO Letter hingga Materiality Report Semua Jadi Sorotan
Jadi kalau kamu datang mencari hiburan ringan atau lelucon jelas ini mungkin bukan jamannya.
Tapi kalau kamu terbuka dengan antitesis hiburan dan ingin tergetar ini cocok.***
Artikel Terkait
Review Film As God (2020) Aksi Bela Diri Berantas Praktik Kultus Sesat di Jaman Perang Pemberontakan
Review Film Honest Thief (2020), Ketika Mantan Perampok Membongkar Kebobrokan Oknum FBI
Review Film 'Baahubali: The Eternal War Part 1' (2027), Cerita, Visual, dan Pesan Moral dari Dunia Mahishmati Animasi
Review Film Men in Black II (2002), Ketika Will Smith dan Tommy Lee Jones Bersatu Kembali Lindungi Bumi dari Serangan Alien
Review Film Police Story 2 (1988), Ketika Jackie Chan Jadi Polisi Jujur Bongkar Gembong Kriminal Hong Kong