KLIK SAJA - Sebuah film drama yang sangat realistis dan idealis dibuat dengan baik oleh director John Crowley dibantu penulis naskah Nick Payne. Tema "sisa hidup" kembali menjadi sumber, di mana kali ini sebuah pilihan menjalani enam bulan fantastis dan progresif diambil sebagai keputusan besarnya.
We Live In Time (2024) benar-benar menawarkan sebuah gagasan, bukan hanya untuk orang yang nyawanya tinggal menghitung hari. Semua penonton bisa memaknai dengan positif, bahwa setiap menit berharga bagi individu dan keluarga, seperti tagline film drama ini.
Diproduksi menggunakan payung perusahaan StudioCanal, Film4, dan SunnyMarch, We Live In Time yang rilis pada 18 Oktober 2024 mempunyai durasi 1 jam 48 menit dengan rating R (Restricted) karena adanya adegan seksual di dalamnya.
Ide cerita sebenarnya tidak terlalu asing dengan penyakit akut menjadi big-problem, namun detail adegan membuat penonton sangat larut dalam hubungan dua tokoh utama di dalam film. Sangat realistis dan detail.
Jikalau ada ruang untuk kritik, adalah pilihan tiga periode waktu yang ditujukan untuk variasi penceritaan alur maju-mundur terkesan berserakan.
Sebab tidak menimbulkan plot twist, tiga timeline yang diberikan secara acak terasa mubazir meskipun punya maksud agar penonton bisa memilah periode waktu berdasarkan rambut tokoh wanitanya.
Bahkan mungkin bagi penikmat yang "mau gampang", upaya ini jadi terkesan mengganggu.
Baca Juga: Review Film Juror #2 (2024), Ketika Terkadang Kebenaran Tidak Selalu Berujung Keadilan
Pasangan Sempurna Family-Man dan Independent-Woman
Dua karakter utama yang membangun film ini adalah Tobias (diperankan Andrew Garfield) dan Almut (Florence Pugh).
Bertemu karena sebuah musibah kecelakaan, kedua orang ini punya latar belakang berbeda yang malah bisa saling menyempurnakan.
Tobias yang baru saja bercerai dengan istrinya karena perbedaan prinsip mengenai LDR, adalah tipe Family-Man yang ingin membangun legasi sebuah keluarga bahagia tanpa terlalu mementingkan urusan individualnya.
Sementara itu, Almut sedari kecil punya mental bersaing sangat tinggi, adalah seorang chef sekaligus pemilik resto terkenal.
Artikel Terkait
Review Film His Three Daughters (2023), Titik Balik Komunikasi Tiga Bersaudari Jelang Kematian Sang Ayah
Review Film Conclave (2024), Pemilihan Paus Baru yang Penuh Intrik dan Mindblowing
Review Film Killer Heat (2024), Plot Twist Kelam dalam Cinta Segitiga Kembar Monozigotic
Review Film Mary (2024), Sebuah Fiksi Pengisi Kekosongan Peristiwa di Alkitab dan Anthony Hopkins Memewahkannya
Review Film Red One (2024), Penculikkan Santa Claus Menjelang Malam Natal
Review Film Juror #2 (2024), Ketika Terkadang Kebenaran Tidak Selalu Berujung Keadilan