KLIK SAJA - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 mulai menghantam sektor perdagangan Indonesia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) memaksa kapal-kapal dagang memutar rute, menaikkan biaya logistik, dan menghentikan pengiriman ekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika. Dua kapal tanker milik Pertamina juga masih tertahan di selat tersebut.
Ekspor Sarung dan Bumbu Terhenti
Baca Juga: Pantau Sekarang! Jalur Alternatif Mudik 2026 dari Jakarta supaya Aman dan Lancar
Industri sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) di Tegal, Jawa Tengah, menjadi salah satu yang langsung terdampak.
Jamaludin, pengusaha sarung di Kabupaten Tegal, mengatakan pengiriman ke Timur Tengah dan Afrika sudah berhenti total sejak awal Maret. "Sudah tidak ada kiriman sama sekali dari Indonesia ke Afrika maupun Timur Tengah," ujarnya kepada media pada Senin (2/3)
Di sisi lain, ekspor bumbu masak khas Indonesia untuk kebutuhan jemaah haji 2026 juga menghadapi tantangan.
Baca Juga: Wajib Cek! Arus Mudik Banten 2026 dan Tips Monitoring Real‑Time Jalur Alternatif
PT Niaga Citra Mandiri baru saja melepas 76 ton bumbu pasta ke Arab Saudi pada Selasa (3/3) sebagai bagian dari program Kementerian Haji dan Umrah.
Namun ketidakpastian jalur pelayaran menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman berikutnya.
Total ekspor bumbu untuk musim haji tahun ini ditargetkan mencapai lebih dari 450 ton senilai sekitar Rp63,36 miliar.
Baca Juga: Jangan Berangkat Sebelum Tahu! Rute Bypass dan Titik Rawan Macet Mudik 2026 di Jabar
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan margin eksportir berpotensi terpangkas hingga 80 persen akibat kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Mahendra Rianto menambahkan tarif angkutan laut bisa naik 50 persen dengan jalur alternatif tersebut.