Begini Kata Ahli Marketing Terkait Olok-Olok Nama Gedung DPR RI di Google Maps

photo author
Hariyani, Klik Saja
- Selasa, 4 Juli 2023 | 17:52 WIB
Belakangan ini jagat maya tengah diramaikan oleh sejumlah gambar tangkapan layar yang menunjukkan nama lokasi Gedung DPR RI di Google Maps. (Twitter/@recehtapisayng)
Belakangan ini jagat maya tengah diramaikan oleh sejumlah gambar tangkapan layar yang menunjukkan nama lokasi Gedung DPR RI di Google Maps. (Twitter/@recehtapisayng)



KlikSAJA, Jakarta--Nama Gedung DPR RI di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta berubah di Google Maps. Nama gedung ini berubah menjadi nama-nama yang kurang etis, diantaranya ada yang menyebut nama perkumpulan tikus berdasi, peternakan tikus hingga gedung korupsi.

Berdasarkan penelusuran redaksi pada Google Maps Selasa (4/7/2023), nampak beberapa titik nama di atas Gedung DPR RI berubah.

Nama-nama itu merupakan hasil editan warga net yang bisa saja bernilai kritis atas penghuni gedung DPR RI itu.

Baca Juga: Pandji Gumilang Berpeluang Dipanggil Kembali Bareskrim Polri

Namun bagaimanakah fenomena itu di mata ahli marketing? Menurut Yuswohady, Marketing Ekspert dalam akun IG @yuswohady, fenomena tersebut merupakan refleksi yang muncul di benak masyarakat atau konsumen.

Lebih lengkapnya berikut tulisannya:


Produk diciptakan di pabrik
Brand diciptakan di benak konsumen
"refleksi gedung dpr di google maps"

Entitas brand itu tak hanya berlaku bagi produk or perusahaan saja.

Brand juga berlaku pada orang (personal brand), lembaga/institusi (institution brand), kota (city brand) bahkan negara (nation brand)
dan bedanya produk dan brand pda bagaimana dua entitas tsb dicipta.

Produk diciptakan di pabrik (oleh produsen/pemilik brand)
sementara brand diciptakan di benak konsumen.

Esensi dari brand adl bhw ia diciptakan bersama-sama (co-creation) antara konsumen dan produsen sebagai perancang brand.

Jadi brand tak akan pernah lahir tanpa ada konsumen.

Makanya, produsen tak bisa semudah membalik telapak tangan untuk membentuk reputasi brand karena sebagian besar reputasi itu yang menentukan adalah konsumen.

Apalagi di era bumi datar saat ini dimana melalui medsos konsumen bisa ngomong apapun tentang brand n begitu mudah viral. Dan dalam ukuran detik reputasi brand jatuh.

Nah, klo esensi ini kita terapkan pada kasus DPR yang diolok-olok netizen di google maps, analisisnya menjadi sangat menarik.

Reputasi DPR itu bukan pihak DPR semata yang membentuk, tapi juga rakyat indonesia sebagai "konsumen"-nya.

Reputasi brand DPR terbentuk dari apa yang diucapkan dan dilakukan oleh lembaga wakil rakyat.

Branding is about delivering what we promise.

Kalau apa yang diucapkan dan dilakukan DPR betul-betul mencerminkan positioning dia sebagai lembaga wakil rakyat, maka reputasi brand akan kokoh terbentuk.

Namun, ketika ucapan dan kelakuannya sebaliknya maka reputasi brand DPR juga akan terpuruk.

Mekanisme pembentukan brand adalah melalui "mekanisme pasar" mengacu realitas objektif yang ditangkap di benak konsumen.

Tidak bisa melalui mekanisme pemaksaan, penindasan, ataupun pemberangusan.

Sehingga solusi atas olok-olokan netizen terhadap DPR di google maps bukanlah menghapus penamaan: "kebun binatang terbesar di asia", "sampah negara" or "peternakan tikus" dari direktori google maps.

Tapi memperbaiki ucapan dan kelakuan seluruh elemen DPR.

...dan klo sdh baik, so pasti netizen akan sukarela menggantinya ????

Semoga dpr menjadi lebih baik ❤️❤️❤️ ????????????????????????.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hariyani

Tags

Rekomendasi

Terkini

X