teknologi

Analisa Peluang Pemanfaatan Limbah Sawit dan Styrofoam Jadi Alternatif Bahan Bakar Kapal

Jumat, 3 Juli 2026 | 18:31 WIB
Limbah Sawit (Gokomodo)

Bahan bakar yang terlalu kental umumnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum dialirkan ke mesin.

Proses pemanasan ini membutuhkan energi tambahan yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi bahan bakar sekaligus biaya operasional kapal.

Menurut Dieni, pencampuran minyak pirolisis yang telah diformulasikan membuat bahan bakar lebih mudah mengalir sehingga kebutuhan energi untuk proses pemanasan dapat ditekan.

"Formula ini mampu mempertahankan kualitas bahan bakar sesuai standar bahan bakar kapal sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang signifikan," katanya.

Keunggulan tersebut membuka peluang penggunaan bahan bakar campuran tanpa harus melakukan perubahan besar pada sistem bahan bakar kapal yang sudah ada.

Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi AI dalam Pengembangan Propulsi Perancangan Kapal Laut

Maka dengan demikian, teknologi ini dinilai lebih praktis dibandingkan sejumlah alternatif lain yang masih memerlukan investasi infrastruktur dalam skala besar.

Selain meningkatkan efisiensi, penelitian BRIN juga menunjukkan bahwa campuran minyak pirolisis mampu menurunkan kandungan sulfur dalam bahan bakar kapal.

Temuan ini menjadi penting karena sulfur merupakan penyebab utama terbentuknya emisi sulfur oksida (SOx), salah satu polutan yang dihasilkan dari aktivitas pelayaran.

Emisi SOx diketahui berdampak buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan manusia. Karena itu, berbagai regulasi internasional terus mendorong penggunaan bahan bakar kapal dengan kandungan sulfur yang lebih rendah.

Dengan kadar sulfur yang menurun, bahan bakar hasil formulasi tersebut berpotensi membantu industri pelayaran memenuhi standar lingkungan sekaligus mengurangi pencemaran udara dari sektor transportasi laut.

Pengembangan bahan bakar berbasis limbah ini juga dinilai lebih realistis dibandingkan sejumlah teknologi alternatif seperti hidrogen atau amonia.

Meski menawarkan emisi yang lebih rendah, kedua teknologi tersebut masih membutuhkan pembangunan infrastruktur baru, mulai dari sistem penyimpanan hingga distribusi bahan bakar.

Sebaliknya, minyak pirolisis dari limbah sawit dan styrofoam berpotensi dimanfaatkan melalui sistem yang sudah tersedia dengan penyesuaian yang relatif minimal.

Hal ini membuka peluang implementasi yang lebih cepat sekaligus menekan kebutuhan investasi.

Halaman:

Tags

Terkini