teknologi

Mengenal Sejarah Sumpit, Bukan Sekedar Alat Makan Biasa

Rabu, 3 Desember 2025 | 23:54 WIB
ilustrasi sumpit kayu (biesanz)

Pada era dinasti di Tiongkok, sumpit perak dipercaya dapat mendeteksi racun.

Konon, sumpit akan berubah warna menjadi hitam apabila menyentuh makanan beracun. Namun, metode ini tidak selalu akurat.

Perak tidak berubah warna ketika bersentuhan dengan sianida atau arsenik, tetapi dapat bereaksi terhadap hidrogen sulfida yang terdapat dalam bawang putih, bawang merah, atau telur busuk.

Selama berabad-abad, sumpit juga dikaitkan dengan berbagai mitos lainnya.

Misalnya, beberapa budaya Asia percaya bahwa menggunakan sumpit yang tidak sepasang bisa membuat seseorang ketinggalan pesawat atau kapal.

Di Jepang, adalah sangat tabu apabila menancapkan sumpit ke nasi, karena dianggap tidak hormat dan kesialan.

Dalam budaya Korea, ada pula keyakinan bahwa semakin dekat seseorang memegang sumpit dari ujungnya, semakin lama ia akan lajang.

Manfaat menggunakan sumpit

Percaya atau tidak, penggunaan sumpit memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.

Salah satu manfaatnya adalah peningkatan daya ingat. Hal ini diduga karena penggunaan sumpit yang benar melibatkan sekitar 50 otot tubuh.

Konsentrasi dan ketelitian yang diperlukan saat menggunakan sumpit berdampak positif pada kerja otak.

Sumpit juga menuntut kesabaran dan keterampilan — sesuatu yang tidak selalu mudah, terutama ketika sedang lapar!

Sumpit berawal sebagai alat sederhana untuk mengambil makanan dari panci besar berisi kaldu mendidih. Kini, sumpit telah menjadi salah satu peralatan makan paling dikenal di seluruh dunia, terutama dalam kuliner Asia.

Asal-usulnya yang sederhana dan sejarahnya yang jarang diceritakan menunjukkan betapa pentingnya sumpit dalam budaya Asia.

Sumpit tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari hidangan Asia dan akan terus mendominasi dunia peralatan makan di kawasan ini.***

Halaman:

Tags

Terkini