teknologi

Mengenal Sejarah Sumpit, Bukan Sekedar Alat Makan Biasa

Rabu, 3 Desember 2025 | 23:54 WIB
ilustrasi sumpit kayu (biesanz)

Sekitar tahun 400 M, masyarakat mulai menggunakan sumpit untuk makan.

Pada masa itu, terjadi kelangkaan makanan dan bahan bakar akibat ledakan populasi di Tiongkok. Para juru masak pun harus berkreasi.

Minimnya ketersediaan kayu untuk bahan bakar memaksa mereka mengubah cara memasak. Mereka mulai memotong bahan makanan menjadi potongan kecil.

Semakin kecil potongan makanan, semakin cepat proses memasaknya — cara cerdas untuk menghemat kayu sekaligus tetap bisa makan.

Dengan ukuran makanan yang kecil, penggunaan pisau di meja makan pun tak lagi diperlukan, hingga akhirnya menjadi usang.

Di sinilah penggunaan sumpit sebagai alat makan mulai lahir.

Perkembangan sumpit

Berbagai budaya kemudian mengadopsi sumpit dengan ciri khas masing-masing.

Di Tiongkok, sumpit diperkirakan mulai populer pada masa ajaran Konfusius. Sang filsuf menolak keberadaan pisau di meja makan karena dianggap sebagai simbol kekerasan dan pembunuhan.

Hal ini diyakini memengaruhi desain sumpit Tiongkok yang dibuat tumpul.

Pada tahun 500 M, sumpit mulai menyebar ke Jepang, Vietnam, dan Korea — masing-masing negara memberi sentuhan unik pada desain sumpit.

Di Jepang, misalnya, sumpit awalnya hanya digunakan dalam upacara keagamaan.

Sumpit tersebut dibuat dari sebatang bambu yang dibelah dua, namun masih menyatu di bagian atas seperti pinset. Selain itu, sumpit pria dibuat satu inci lebih panjang daripada sumpit wanita.

Negara lain mencoba bahan-bahan berbeda, termasuk giok (jade), gading, kuningan, hingga koral.

Mitos seputar sumpit

Halaman:

Tags

Terkini