teknologi

Mengenal Neuroplastisitas: Menjelaskan Bagaimana Otak Kita Bekerja Pada Setiap Fase Kehidupan

Senin, 14 April 2025 | 13:11 WIB
ilustrasi kinerja Neuroplastisitas (Mya Care)

KLIK SAJA - Neuroplastisitas adalah kemampuan luar biasa otak untuk berubah dan beradaptasi sepanjang hidup.

Proses ini melibatkan pembentukan koneksi baru antar neuron (sinapsis) dan penghapusan koneksi lama yang tidak lagi digunakan.

Melalui mekanisme ini, otak kita mampu belajar, berinovasi, dan bahkan pulih dari kerusakan.

Di dalam otak, terdapat jaringan neuron kompleks yang saling terhubung. Jaringan ini memungkinkan kita memproses informasi, merespon lingkungan, mengingat, dan membuat keputusan.

Tanpa neuroplastisitas, jaringan ini akan stagnan, dan kita tidak akan pernah berkembang secara kognitif maupun emosional.

Neuroplastisitas terjadi dalam beberapa fase penting sepanjang hidup kita. Pada masa kanak-kanak, otak berada dalam masa “emas” plastisitas.

Anak-anak dengan mudah belajar bahasa, keterampilan motorik, atau mengenali pola sosial karena otaknya cepat membentuk jalur-jalur saraf baru.

Pada masa ini, otak sangat responsif terhadap pengalaman, baik positif maupun negatif.

Maka dari itu pada usia ini, dianjurkan untuk memberikan stimulasi yang variatif dan repetitive untuk optimalkan tumbuh kembangnya.

Memasuki masa remaja, otak masih memiliki plastisitas tinggi, tetapi mulai menyempurnakan jaringan yang ada.

 Ini masa penting pembentukan identitas, pengambilan risiko, dan emosi yang intens. Namun, karena otak remaja masih berkembang, ia juga rentan terhadap pengaruh negatif seperti penggunaan narkoba.

Zat seperti ganja bisa mengganggu pembentukan jalur saraf yang sehat, mengakibatkan gangguan jangka panjang.

Dulu, para ilmuwan percaya bahwa di usia dewasa, otak berhenti berubah. Tapi penelitian terbaru membuktikan sebaliknya.

Otak orang dewasa tetap plastis—meski dalam tingkat yang lebih lambat. Kita tetap bisa belajar hal baru, membentuk kebiasaan baru, dan memperkuat ingatan. Namun, prosesnya butuh latihan berulang dan stimulasi kognitif.

Halaman:

Tags

Terkini