teknologi

Mengenal Al-Battani, Sang Astronom Besar Dunia Islam, Pencetus Heliosentris

Rabu, 19 Maret 2025 | 21:48 WIB
Al Battani dan Kitabnya yang mengukur Astronomi Bumi (Boombastis)

Hingga Pada tahun 1537, terjemahan Latin dari zīj Al-Battani dicetak di Nuremberg, Jerman, dan menjadi dasar bagi para astronom Eropa seperti Tycho Brahe, Johannes Kepler, dan Galileo Galilei.

Al-Battani juga dikenal karena ketelitiannya dalam melakukan pengamatan astronomi. Salah satu pencapaiannya yang paling menonjol adalah pengamatannya terhadap Matahari, yang membantunya memahami fenomena gerhana matahari annular.

Ia juga berhasil menghitung dengan akurat obliquity of the ecliptic (sudut antara bidang ekuator dan ekliptika), yang merupakan dasar untuk memahami perubahan musim di Bumi.

Selain itu, Al-Battani menghitung panjang tahun matahari dengan presisi yang luar biasa.

Ia juga memperkenalkan konsep presesi ekuinoks, yaitu pergeseran lambat sumbu rotasi Bumi, dengan nilai satu derajat setiap 66 tahun.

Data yang ia kumpulkan menjadi sangat penting bagi Nicolaus Copernicus, yang kemudian mengembangkan teori heliosentrisnya berdasarkan temuan Al-Battani.

Dalam bidang matematika, Al-Battani memperkenalkan penggunaan sinus dan tangen dalam perhitungan geometri, menggantikan metode geometri Yunani yang lebih tradisional.

Ia juga menciptakan persamaan trigonometri untuk menentukan arah kiblat, yang digunakan oleh umat Islam dalam salat.

Walaupun metode ini kemudian disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Al-Biruni, kontribusi Al-Battani tetap diakui sebagai langkah penting dalam perkembangan matematika dan astronomi Islam.

Bahkan, matematikawan Jerman Christopher Clavius menggunakan tabel Al-Battani dalam mereformasi kalender Julian, yang akhirnya melahirkan kalender Gregorian yang kita gunakan hingga hari ini.

Al-Battani meninggal pada tahun 929 M, tetapi warisannya terus hidup melalui karya-karyanya yang abadi.

Ia diakui sebagai salah satu astronom terbesar dalam sejarah, tidak hanya di dunia Islam tetapi juga dalam konteks global.***

Halaman:

Tags

Terkini