Hanya 1 spesies gastropoda ditemukan pada relief dan 23 spesies mamalia dari 18 famili dan tiga spesies reptil dari 3 famili.
Satwa yang teridentifikasi, antara lain, gajah, dan kijang muncak (Muntiacus muntjak) atau kidang dalam bahasa Jawa.
Ada pula burung jelarang hitam (Ratufa bicolor) atau dikenal juga dengan nama jiarang, burung pipit (Estrildidae), dan harimau loreng (Panthera tigris).
Berdasarkan 52 spesies yang teridentifikasi tersebut, hanya satu fauna yang tidak ada keberadaannya di Nusantara kuno, yaitu singa yang bisa ditemukan di India, asal dari Kitab Lalitavistara.
Baca Juga: Mengintip Keindahan Ranu Darungan di Gunung Semeru
Cahyo menduga, kemungkinan besar hewan tersebut memang tersurat di naskah Lalitavistara sehingga dipahat di Borobudur.
Panil dengan pahatan spesies fauna terbanyak adalah mengenai kisah Bodhisattva (calon Buddha) yang akan menyeberangi Sungai Gangga saat sedang meluap.
Pada relief ini terpahat sembilan jenis fauna di dalamnya.
Kemudian, fauna paling banyak tersebar di panil adalah merak hijau (Pavo muticus) yang terpahat pada 15 relief.
Para pemahat relief di Candi Borobudur layaknya ahli biologi yang memahami tidak hanya flora dan fauna tetapi juga aspek-aspek biologi yang ada di setiap gambar yang dipahatkan oleh mereka.
Para pemahat ini mampu memahat secara rinci dan benar jenis hewan sesuai dengan habitatnya.
Misalnya pada sebuah panil terdapat pahatan burung dan kera berada di pohon serta buaya sedang berjemur di sungai.
Kajian tentang makna kehadiran spesies fauna menjadi penting dan menarik untuk melengkapi cerita panil serta menambah nilai Candi Borobudur sebagai wisata sejarah dan edukasi.
Selain itu, kemunculan fauna di candi-candi itu dapat memberikan gambaran keberadaan setiap spesies yang ada di Jawa dan menawarkan gambaran lingkungan yang lebih lengkap.***