KLIK SAJA- Budaya populer penuh dengan "fakta" tentang otak, seperti kita hanya menggunakan 10% dari kinerja otak, atau jika seseorang memiliki kepala yang besar, dia adalah seorang jenius, dimana hal ini sepenuhnya tidaklah benar.
Mitos tentang otak ini sudah diketahui banyak orang dan banyak yang membenarkannya.
Namun seiring kemajuan ilmu saraf , kita mempelajari kebenaran baru, sembari "melupakan" kebenaran lama yang ternyata salah.
Beberapa penemuan baru yang paling menarik tentang otak adalah “kebenaran” sebelumnya yang ternyata tidak benar.
Baca Juga: Bagaimana Kereta Api Super Cepat Shinkansen Mengubah Wajah Jepang
Berikut adalah tiga mitos kinerja otak yang selama ini kita yakini adalah kebenaran ternyata salah.
- Belajar Haruslah Memperhatikan
Bagi yang sudah berumah tangga, perihal mendengarkan adalah aspek paling utama dalam menjalin hubungan.
Tapi tahukah anda, ternyata dalam memahami sesuatu ternyata tidak harus selalu memperhatikan secara seksama.
Ini adalah yang disebut proses “memori implisit”, dimana memang dapat membentuk memori tanpa harus memerhatikan.
Sebagai contoh, terkadang jika kita melewati suatu keramaian pasar, kita kadang masih mengingat teriakan-teriakan para penjualnya, walau kita tidak memperhatikannya, inilah yang disebut memori implisit.
- Semua Reseptor Rasa ada di Mulut
Kita memiliki reseptor rasa untuk rasa manis, asam, pahit, asin, dan umami (daging) di lidah dan jaringan rongga mulut di dekatnya, dan ini sudah menjadi pemahaman umum.
Namun penelitian baru mengungkapkan bahwa reseptor rasa juga terdapat di usus, otak, paru-paru, bahkan organ jantung.
Baca Juga: Impian Taksi Terbang Eropa Terkendala Minimnya Dana Investasi
Tidak seperti penerimaan rasa oral, kita tidak menyadari secara sadar keluaran reseptor non-oral ini, tetapi reseptor ini kemungkinan terlibat dalam pencernaan dan pengaturan metabolisme kita.