BRIN Ungkap 14 Provinsi Bertanah Sangat Subur, Dimana Sajakah?

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 16 Desember 2024 | 17:20 WIB
Pemetaan tanah hitam yang subur oleh BRIN (BRIN)
Pemetaan tanah hitam yang subur oleh BRIN (BRIN)

KLIK SAJA - Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki berbagai jenis tanah, salah satunya adalah tanah hitam yang kaya bahan organik dan dikenal sebagai tanah paling subur.

Namun, menurut Destika Cahyana Periset dari Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tanah hitam saat ini menghadapi berbagai tantangan. 

“Jika konversi lahan dilakukan tanpa data valid, erosi terjadi, dan pengolahan tanah tidak intensif, tanah hitam akan hilang, begitu juga stok karbonnya. Karena itu, identifikasi sebaran spasial dan proteksi tanah hitam sangat diperlukan,” ungkap Destika dalam webinar Pengelolaan Tanah Hitam Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan dan Mitigasi Perubahan Iklim, Kamis (12/12).

Baca Juga: Indonesia Kini Punya ‘Gatotkaca’ Untuk Observasi Cuaca dan Iklim, Sistem Informasi Teknologi GNSS-RO

Selanjutnya Destika menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemetaan tanah hitam tahap 1, dimana Indonesia memiliki 6,3 juta hektar tanah hitam yang dapat ditemui di 14 provinsi di Indonesia.

Misalnya Aceh, beberapa wilayah di Jawa, Sulawesi, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Papua. 

“Sedangkan untuk tahap 2, kami tengah melakukan klasifikasi di software SAGA dengan data DEM dan algoritma Landform. Kemudian pemisahan Mollisols dilakukan di software R dengan metode digital soil mapping atau machine learning,” ungkapnya.

Ahmad Suriadi, Periset PRTP, menjelaskan pengelolaan tanah hitam di NTB untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan.

“Pengelolaan dilakukan dengan sistem gogorancah untuk tanah kering dan penanaman gora, agar petani tidak perlu menyiangi lahan saat kering,” ungkapnya. 

Ahmad juga menyarankan agar penggunaan herbisida selektif untuk menekan biaya penyiangan, serta teknik konservasi air dengan embung untuk meningkatkan produktivitas lahan tadah hujan.

Baca Juga: Bagaimana Kereta Api Super Cepat Shinkansen Mengubah Wajah Jepang

Sementara itu, Tony Basuki dari PRTP memaparkan pengelolaan tanah hitam di NTT yang tersebar di pulau-pulau kecil.

“Kami mengelola tanah dengan pendekatan berbasis pengetahuan dan kearifan lokal, seperti teknik aisuak untuk mengolah tanah berat. Teknik ini membantu menggemburkan tanah setelah hujan,” ujar Tony.

Di Lembah Palu Sulawesi Tengah, Syafruddin dari PRTP menjelaskan tanah hitam dimanfaatkan untuk hortikultura, perkebunan kakao, kopi, dan palawija.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: BRIN

Tags

Rekomendasi

Terkini

X