Salah satu alasan yang beredar adalah karena keberadaannya berada di lingkungan tempat ibadah.
Dalam pesan yang dibagikan tertulis, “Femas ada di Ansan, polisi sudah ke situ. Dia sembunyi di masjid, tapi polisi enggak bisa masuk karena itu tempat ibadah dan dia belum jadi kasus kriminal, masih urusan imigrasi.”
Informasi tersebut menjadi perbincangan luas setelah diunggah ke media sosial.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari otoritas Korea Selatan mengenai prosedur yang sedang dilakukan.
Status Femas sendiri masih dikaitkan dengan persoalan keimigrasian, bukan perkara pidana.
Berawal dari Pamit Membeli Sepatu di Myeongdong lalu Menghilang
Kasus ini pertama kali mencuat setelah akun @sarjanabackpacker membagikan kronologi dugaan hilangnya Femas pada 17 Juli 2026.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa selama mengikuti perjalanan wisata tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan dari Femas.
“Tidak ada tanda-tanda sama sekali. Beliau pendiam. Tour Leader satu kamar dengannya. Diajak ngobrol, diajak makan, diajak jalan. Bahkan ditanya berkali-kali apakah ada kesulitan, semuanya terlihat normal.”
Sebelum menghilang, Femas berpamitan ingin melihat-lihat sepatu di kawasan Myeongdong tanpa didampingi rombongan. Setelah itu ia tidak lagi kembali ke hotel maupun memberikan kabar kepada siapa pun.
“Sampai malam itu, beliau berkata ingin melihat-lihat sepatu di Myeongdong. Lalu menghilang. Tidak pernah kembali ke hotel, tidak pernah menjawab telepon, tidak pernah membalas WhatsApp, tidak pernah memberi kabar," tutupnya.***