Memasuki Februari hingga Maret, harga mulai turun ke kisaran Rp55 hingga Rp60 per saham.
Sempat terjadi rebound terbatas pada April, namun kenaikan tersebut tidak bertahan lama.
Memasuki Mei, saham kembali melemah hingga akhirnya turun ke level Rp50.
Sejak saat itu harga bertahan di level yang sama hingga perdagangan akhir Juni.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap saham GOTO sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Buyback Rp3,5 Triliun Belum Mampu Mengangkat Optimisme
Di tengah ramainya pembahasan "kutukan gocap", GOTO sebenarnya membawa kabar positif melalui aksi korporasi.
Dalam RUPST dan RUPS Luar Biasa pada 18 Juni 2026, pemegang saham menyetujui program pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun untuk periode 2026–2027.
Program tersebut bertujuan memberikan fleksibilitas pengelolaan modal sekaligus meningkatkan nilai bagi para pemegang saham.
Meski demikian, aksi buyback tersebut belum berhasil mengangkat sentimen positif di kalangan investor ritel.
Percakapan di media sosial masih didominasi candaan mengenai sulitnya saham GOTO keluar dari level Rp50.
Apakah buyback mampu menjadi titik balik bagi pergerakan saham GOTO masih akan ditentukan oleh dinamika pasar dalam beberapa bulan mendatang.***