Situasi ini menambah biaya sekaligus ketidakpastian perjalanan.
Kompleksitas turnamen yang berlangsung di tiga negara dan 16 kota berbeda juga dianggap menyulitkan sebagian suporter.
Mobilitas yang rumit membuat biaya perjalanan semakin membengkak.
Sejumlah analis menilai faktor-faktor tersebut mengurangi daya tarik perjalanan langsung ke lokasi pertandingan.
Akibatnya, jumlah wisatawan yang datang belum sesuai proyeksi awal.
Airbnb Justru Menjadi Salah Satu Pihak yang Diuntungkan
Menariknya, tidak semua sektor pariwisata mengalami kelesuan.
Penyedia akomodasi sewa jangka pendek seperti Airbnb justru mencatat peningkatan permintaan di beberapa kota penyelenggara.
Banyak wisatawan memilih opsi tersebut karena dianggap lebih fleksibel dan terjangkau dibanding hotel konvensional.
Data industri menunjukkan permintaan penginapan alternatif meningkat di sejumlah kota tuan rumah.
Fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan pola konsumsi wisatawan selama Piala Dunia.
Dengan kata lain, uang wisatawan tetap berputar, tetapi tidak seluruhnya mengalir ke sektor hotel tradisional.
Piala Dunia 2026 memang masih berlangsung dan peluang peningkatan kunjungan wisatawan tetap terbuka.
Namun hingga saat ini, harapan bahwa turnamen terbesar dunia akan langsung membawa ledakan pendapatan bagi hotel dan maskapai di Amerika Serikat ternyata belum sepenuhnya terwujud.