Di Bandara Soekarno-Hatta misalnya, harga avtur turun dari Rp24.580 per liter menjadi Rp22.190 per liter.
Sementara di Bandara Ngurah Rai Bali, harga avtur turun dari Rp26.190 per liter menjadi Rp23.480 per liter.
Penurunan juga terjadi di Bandara Kualanamu yang sebelumnya berada di angka Rp25.720 per liter dan kini menjadi Rp23.090 per liter.
Perubahan tersebut menjadi salah satu penurunan harga avtur terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Update Jadwal Kapal Semarang ke Kumai Juni 2026, Ada KM Kelimutu, KM Lawit, dan Dharma Rucitra 9
YLKI dan FKBI Minta Harga Tiket Pesawat Disesuaikan
Setelah harga avtur turun, YLKI dan FKBI meminta maskapai penerbangan ikut melakukan penyesuaian tarif tiket pesawat.
Kedua lembaga tersebut menilai biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen penting dalam struktur biaya operasional penerbangan.
Karena itu, penurunan harga avtur dinilai seharusnya dapat memberikan ruang bagi maskapai untuk menurunkan tarif.
Mereka berharap masyarakat sebagai konsumen dapat merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut.
Permintaan ini juga muncul di tengah keluhan publik mengenai harga tiket pesawat domestik yang masih dianggap tinggi di sejumlah rute.
Harga Tiket Pesawat Dipengaruhi Banyak Faktor Selain Avtur
Meski avtur menjadi salah satu komponen utama biaya penerbangan, harga tiket pesawat tidak hanya ditentukan oleh faktor tersebut.
Biaya operasional maskapai juga mencakup perawatan pesawat, sewa armada, biaya bandara, pajak, hingga nilai tukar rupiah.
Dalam berbagai diskusi publik, tingginya harga tiket pesawat sering dikaitkan dengan kombinasi berbagai komponen biaya tersebut.