Meski melakukan pembatasan ketat, Amerika Serikat tetap memberi pengecualian terhadap penerbangan terkait ibadah haji dan umrah.
Scott Bessent menegaskan Washington tidak akan menghambat aktivitas perjalanan keagamaan warga Iran.
Warga Iran tetap diperbolehkan menggunakan maskapai asal negaranya untuk terbang menuju Makkah dan Madinah di Arab Saudi.
Kebijakan pengecualian ini dilakukan agar pelaksanaan ibadah umat Muslim tidak terganggu situasi politik dan ekonomi.
Langkah tersebut juga menjadi bentuk pemisahan antara kebijakan geopolitik dan kebebasan beribadah.
Penerbangan keagamaan tetap berjalan di tengah meningkatnya tensi antara AS dan Iran.
Konflik AS-Iran Berdampak pada Penerbangan Timur Tengah
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya juga berdampak pada sektor penerbangan internasional di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah maskapai diketahui sempat menutup atau mengubah rute penerbangan akibat meningkatnya risiko keamanan.
Pemerintah Indonesia bahkan sempat menyiapkan skenario alternatif untuk penerbangan haji 2026.
Perubahan jalur penerbangan dilakukan untuk menghindari wilayah konflik dan ruang udara yang ditutup.
Kondisi tersebut menyebabkan waktu tempuh penerbangan menjadi lebih panjang dan biaya operasional meningkat.
Konflik geopolitik memang menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi industri penerbangan global.
Sejumlah Maskapai Umrah Sempat Terdampak