Kondisi serupa juga terlihat di Jawa Tengah. Beberapa titik berada di lintas Pemalang, Slawi, Prembun, Grobogan, Randublatung, hingga jalur Pantura yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada jam-jam tertentu, arus kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat sangat padat melintasi kawasan tersebut.
Sementara itu, di wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, sejumlah perlintasan seperti Srowot, Brambanan, hingga Masaran juga berada di kawasan dengan aktivitas warga yang tinggi dan menjadi penghubung menuju pusat kegiatan masyarakat.
Dorongan percepatan pembangunan flyover dan underpass ini semakin relevan setelah insiden kecelakaan KRL di Bekasi beberapa waktu lalu yang kembali memunculkan perhatian publik terhadap aspek keselamatan perjalanan kereta api.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan di perlintasan sebidang bukan hanya tanggung jawab operator, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur dan kedisiplinan pengguna jalan.
Baca Juga: PELNI Berhasil Dukung Operasional Kapal Pesiar MV Odyssey Selama Berlayar di Perairan Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, citra KAI sebenarnya menunjukkan tren positif. Modernisasi layanan, peningkatan ketepatan waktu, kebersihan stasiun dan kereta, hingga transformasi digital membuat transportasi kereta api semakin diminati masyarakat.
Bahkan, tidak sedikit wisatawan asing yang memberikan apresiasi terhadap kualitas layanan kereta api di Indonesia yang dinilai semakin nyaman dan modern.
Karena itu, upaya peningkatan keselamatan melalui pembangunan flyover dan underpass dipandang penting agar transformasi positif yang telah dibangun KAI dapat terus berjalan seiring meningkatnya kepercayaan publik terhadap transportasi kereta api nasional.***