Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menyoroti adanya desakan agar juri LCC MPR RI meminta maaf secara langsung kepada Ocha dan rekan-rekannya.
"Ketika kemudian itu salah, memang harusnya minta maaf langsung," kata Retno dalam pernyatannya, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Retno menilai keberanian pejabat publik mengakui kesalahan justru menjadi contoh baik bagi masyarakat dan pelajar.
Ia juga menyebut permintaan maaf bukanlah sesuatu yang tercela.
Menurutnya, sikap terbuka mengakui kesalahan akan membuat suasana publik lebih reda.
FSGI Nilai Permintaan Maaf Tak Bisa Hanya Diwakili Institusi
Retno juga menyoroti bahwa permintaan maaf tidak cukup hanya disampaikan oleh institusi atau lembaga saja.
"Jangan bilang minta maafnya cukup institusi. Menurut saya, siapa yang salah, siapa yang minta maaf itu tidak tepat," terang Retno.
Ia menilai jika kesalahan individu hanya diwakili institusi, hal itu bisa memberi contoh kurang baik kepada generasi muda.
Retno mengatakan budaya bertanggung jawab secara pribadi penting diajarkan kepada anak-anak dan pelajar.
Pernyataannya kemudian mendapat perhatian luas di media sosial.
Banyak warganet juga setuju bahwa permintaan maaf personal lebih tepat dilakukan dalam polemik tersebut.
Ketua MPR Sebut Juri Tak Perlu Minta Maaf Personal
Dalam kesempatan berbeda, Ketua MPR RI, Ahmad Muzani menyatakan dua dewan juri LCC tersebut tidak perlu meminta maaf secara personal.