Nilai tersebut terdiri dari capital gain sebesar 28,4 persen dan dividend yield sebesar 7,3 persen.
Respons positif pasar disebut muncul karena strategi transformasi perusahaan dinilai berjalan cukup agresif dan konsisten.
Telkom juga menjaga kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham lewat payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024.
Selain itu, perseroan masih menjalankan program share buyback hingga Mei 2026 dengan nilai maksimal Rp3 triliun.
Langkah tersebut dianggap memperkuat kepercayaan investor terhadap arah transformasi Telkom.
Telkom Percepat Transformasi Lewat Strategi TLKM 30
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perusahaan sejak 2025.
Lewat strategi jangka menengah TLKM 30, Telkom ingin memperkuat posisi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang kompetitif secara global.
Ada empat pilar utama yang dijalankan dalam transformasi tersebut.
Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence untuk memperkuat tata kelola, budaya kerja, dan kualitas layanan perusahaan.
Pilar kedua yakni Streamlining yang fokus merampingkan bisnis non-core agar perusahaan lebih fokus pada sektor telekomunikasi dan digital.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur,” ujar Dian Siswarini.
Telkom Mulai Divestasi Bisnis Non-core dan Spin-off Fiber
Sebagai bagian dari strategi transformasi, Telkom mulai melakukan penataan bisnis non-core melalui proses divestasi dan spin-off aset.