nasional

Mengenal Suster Yustina Asal NTT, Biarawati Lulusan Perguruan Tinggi Nahdalatul Utama di Surabaya

Minggu, 3 Mei 2026 | 14:31 WIB
Suster Yustina saat wisuda di Unusa Surabaya (unusa)

KLIK SAJA - Suster Yustina Klun Kolo tampak anggun mengenakan jubah biarawati putih saat mengikuti prosesi wisuda pada Kamis, 23 April 2026.

Perempuan asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur itu resmi menamatkan pendidikan pada Program Studi D4 Analisis Kesehatan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Kisah Yustina menjadi menarik karena ia adalah seorang biarawati Katolik yang menempuh pendidikan di kampus berbasis Nahdlatul Ulama, yang mayoritas mahasiswanya Muslim.

Alih-alih menjadi penghalang, pengalaman tersebut justru memperkaya pandangannya tentang hidup dalam keberagaman.

Di awal masa kuliah, Yustina sempat diliputi kekhawatiran. Perbedaan agama dan latar budaya membuatnya bertanya-tanya, apakah ia bisa diterima dengan baik.

Namun, seiring waktu, kekhawatiran itu perlahan sirna. Ia justru menemukan suasana kampus yang hangat, inklusif, dan menjunjung tinggi toleransi.

“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ujar Yustina, seperti dikutip dari Humas Unusa.

Baginya, inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman nyata: ruang belajar yang terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang agama, suku, jenis kelamin, atau latar sosial.

Dalam lingkungan seperti itu, setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Yustina pun memandang perbedaan sebagai kekuatan, bukan sekat. “Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan. Perbedaan agama, ras, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai,” tuturnya.

Selama masa studi, ia juga bersentuhan dengan nilai-nilai moderasi beragama, salah satunya melalui mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diajarkan di kampus NU.

Paham ini menekankan keseimbangan, sikap toleran, dan jalan tengah dalam beragama.

Alih-alih merasa asing, Yustina justru melihatnya sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan. “Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” katanya.

Yustina lahir di Dili, Timor Leste, pada 5 Juli 1994. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Halaman:

Tags

Terkini