Selain itu, tersedia juga ruas Yogyakarta–Bawen seksi 6 (Bawen–Ambarawa) sepanjang sekitar 5 kilometer.
Ada pula ruas Probolinggo–Besuki sepanjang sekitar 50 kilometer.
“Karena sebelumnya harus melewati jalur yang lebih panjang,” katanya.
Keberadaan tol fungsional ini sangat membantu memangkas waktu perjalanan.
Selain itu, jalur alternatif ini juga mengurangi beban di jalan utama.
Dengan begitu, perjalanan menjadi lebih lancar.
Skema Contraflow dan One Way Diterapkan Saat Kepadatan Meningkat
Selain membuka tol fungsional, pemerintah juga menyiapkan rekayasa lalu lintas.
Skema yang digunakan antara lain contraflow dan one way.
Rekayasa ini akan diterapkan jika tingkat kepadatan kendaraan meningkat signifikan.
“Kemarin sore ketika (kepadatan) mencapai 30 persen, bersama Kementerian Perhubungan dan Korlantas, kami memutuskan untuk one way. One way dimulai dari KM 70 (Tol Jakarta—Cikampek) sampai dengan KM 263. Di awal ini dengan contraflow satu lajur di kilometer 44, (kemudian) contraflow dua lajur di kilometer 55, dan dilanjutkan one way sepenggal sampai KM 263,” jelasnya.
Langkah ini terbukti efektif dalam mengurai kemacetan.
Selain itu, rekayasa lalu lintas juga membuat arus kendaraan lebih terkontrol.
Pemerintah akan menyesuaikan kebijakan ini secara situasional.