Kegiatan ini menghadirkan Direktur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BP BUMN, Edi Eko Cahyono.
Selain itu, forum juga menghadirkan sejumlah narasumber dari regulator, praktisi GRC, serta perwakilan dari IFG Group.
Kehadiran para narasumber ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam penguatan tata kelola program TJSL di lingkungan BUMN.
IFG Dorong Penguatan Tata Kelola Program Sosial
Sebagai holding BUMN di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, IFG memiliki mandat strategis dalam pengelolaan risiko dan tata kelola perusahaan.
Karena itu, penguatan prinsip GRC dalam program TJSL dinilai menjadi langkah penting agar program sosial perusahaan memiliki dampak yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Program TJSL diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga selaras dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
TJSL Dinilai Bukan Sekadar Aktivitas Sosial
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menyampaikan bahwa penerapan Three Lines Model menjadi bagian dari komitmen IFG dalam memperkuat tata kelola perusahaan.
Menurutnya, program TJSL seharusnya tidak dipandang sekadar aktivitas sosial atau objek audit semata.
“Melalui forum ini, IFG bersama BP BUMN mendorong penguatan peran dan fungsi pengendalian di setiap lini dalam pengelolaan TJSL. Program TJSL bukan sekadar aktivitas sosial ataupun objek audit, tetapi menjadi strategic value driver yang harus dikelola secara profesional, terukur dan akuntabel serta mampu memitigasi risiko dan membangun kepercayaan dengan stakeholder secara berkelanjutan,” ujar Denny.
Three Lines Model Perkuat Pengendalian Risiko
Pendekatan Three Lines Model menekankan pembagian peran yang jelas dalam tata kelola dan manajemen risiko organisasi.