Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas.
Tetapi bagi Wahyu, setiap masalah adalah ruang lahirnya inovasi.
Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urin domba.
Limbah yang sebelumnya dianggap masalah justru diubah menjadi solusi.
Pemanfaatan 25 ton kotoran domba sebagai pupuk organik berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen.
Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Memutus Ketergantungan pada Tengkulak
Perubahan tidak berhenti pada budidaya. Wahyu juga mendobrak ketergantungan petani terhadap tengkulak.
Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati.
Dampaknya signifikan. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen.
Sepanjang 2024–2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama kelompoknya membukukan keuntungan bersih Rp246.258.000.
Namun bagi Wahyu, angka hanyalah sebagian cerita.
“Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya. Yang paling membanggakan, delapan mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif,” ujarnya.