KLIK SAJA - Indonesia dinilai masih terjebak dalam pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menekankan bahwa dengan pengelolaan sumber daya strategis, hilirisasi industri, dan penguatan riset, Indonesia sudah saatnya “naik kelas” dengan menargetkan pertumbuhan 8%.
Strategi ini juga dibahas dalam bukunya Indonesia Naik Kelas, yang menguraikan peluang ekonomi dari cadangan mineral, secondary resources, dan industri lain yang belum optimal dimanfaatkan.
Terjebak di Pertumbuhan 5% Selama Dekade Terakhir
Dany menyoroti bahwa selama lebih dari sepuluh tahun, ekonomi Indonesia cenderung stagnan di kisaran 5%. Struktur ekonomi yang masih bergantung pada ekspor bahan mentah menjadi salah satu penyebabnya.
Meski memiliki cadangan sumber daya alam strategis, nilai tambah dari industri domestik belum maksimal.
Menurutnya, Indonesia seharusnya bisa melompat ke pertumbuhan yang lebih tinggi jika mengoptimalkan potensi nasional dan menerapkan strategi industrialisasi yang tepat.
Cadangan Mineral Strategis sebagai Keunggulan Kompetitif
Indonesia menempati posisi teratas dunia dalam cadangan mineral seperti nikel, emas, timah, bauksit, dan batubara.
Dany menekankan bahwa potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Kontribusi pajak dan royalti terhadap PDB baru berkisar 9%-10%, jauh di bawah negara maju yang mencapai 30%-40%.
Mengolah mineral menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri dapat memperbesar PDB sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.