Kalimat itu menjadi puncak luapan emosi warga yang merasa diperlakukan tidak adil.
Mereka menilai tindakan hanya mengambil kayu bernomor sebagai bentuk keserakahan.
Bagi para ibu, ini bukan soal kayu semata, tapi soal empati dan kemanusiaan.
Amarah itu mencerminkan luka batin yang mendalam.
Baca Juga: Lonjakan Penumpang Kereta Api di Stasiun Tawang Semarang Saat Libur Nataru Capai 67.422 Orang
Fenomena dugaan tebang pilih kayu sisa banjir ini menambah deretan luka warga Aceh Tamiang yang masih berjuang bangkit dari bencana.
Di tengah harapan akan bantuan dan solidaritas, mereka justru dihadapkan pada praktik yang dianggap mencederai rasa keadilan.
Warga kini menuntut transparansi dan pembersihan material banjir secara menyeluruh, bukan sekadar pengambilan kayu yang menguntungkan sepihak.
Semoga jeritan mereka tak berhenti sebagai video viral semata, tetapi menjadi perhatian serius semua pihak.
Karena di balik kayu-kayu itu, ada harapan warga untuk kembali menata hidup.***