Kondisi inilah yang membuat beberapa titik benar-benar terisolasi ketika bencana besar datang.
Banyak jalur darat terputus, sehingga truk logistik tidak bisa bergerak.
Pada saat bersamaan, cuaca buruk membuat helikopter tidak selalu bisa terbang.
Pernyataan Zulhas soal perbedaan geografis antara Jawa dan Sumatera menggambarkan tantangan besar yang terjadi di lapangan sebuah realita yang jarang terlihat dari layar televisi atau media sosial.
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, BRI Justru Melesat, Ini 7 Bukti Kuatnya Tata Kelola Mereka
Siklon Tropis dan Perubahan Iklim Memperparah Situasi Lapangan
Selain persoalan akses, Zulhas juga menyinggung faktor alam yang sedang berada pada fase ekstrem.
“*Ini dampaknya tidak hanya di kita, Indochina ini. Malaysia juga kena, Thailand kena, Filipina kena, cuma memang kita yang paling ekstrem tapi sekarang kan udah bergeser,*” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan alam akibat ulah manusia turut memperparah efek bencana.
“*lNggak bisa kita salahin alam, karena ada perbuatan kita yang menyebabkan lebih parah,” terangnya.
Pernyataan ini memberi konteks bahwa bencana kali ini bukan insiden tunggal, tetapi bagian dari rangkaian cuaca ekstrem terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Ada Perintah Langsung dari Presiden Jika Situasi Mengharuskan Gerak Cepat
Di podcast yang sama, Zulhas menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan instruksi tegas soal percepatan penanganan bencana.
“Pak Presiden kalau seperti ini langsung, kita diperintah semua. Tidak boleh ada yang istirahat, tidak boleh ada yang terlambat, harus segera cepat,” katanya.