KLIK SAJA - Musibah besar kembali menyelimuti Aceh. Dalam sekejap, banjir bandang menghantam sejumlah wilayah dan menyapu apa saja yang dilaluinya, termasuk empat kampung yang dinyatakan hilang tanpa jejak.
Gambaran mencekam itu disampaikan langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, yang menyebut bencana ini sebagai “tsunami kedua” bagi Tanah Rencong.
Di berbagai titik, ribuan warga terisolasi akibat akses darat yang putus dan kondisi medan yang penuh lumpur.
Tim penyelamat terus bekerja tanpa henti, berpacu dengan waktu untuk menyalurkan bantuan serta mengevakuasi warga yang sudah berhari-hari terjebak.
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, BRI Justru Melesat, Ini 7 Bukti Kuatnya Tata Kelola Mereka
Situasi makin pelik karena minimnya jalur logistik, membuat bantuan hanya bisa masuk dari udara.
Di tengah kekacauan itu, harapan tetap dipertahankan dari para relawan, aparat, hingga warga yang saling menguatkan.
Empat Kampung ‘Hilang’, Bencana Ini seperti Tsunami Kedua
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menggambarkan bencana ini sebagai tragedi yang setara dengan tsunami 2004 karena skala kerusakannya yang begitu masif.
Ia menyebut ada empat kampung—Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, dan Peusangan di Bireuen yang amblas disapu banjir bandang dalam hitungan jam.
Mualem menyampaikan kesaksiannya saat Apel Tim Recovery Bencana di Lanud Sultan Iskandar Muda, menggambarkan malam penuh kepanikan ketika kampung-kampung itu hilang tanpa jejak.
Baca Juga: Bantuan Logistik Lamban Pasca Bencana Banjir, Oknum Warga Sibolga Jarah Gudang Bulog
Warga yang selamat hanya bisa menyelamatkan diri dengan pakaian di badan, sementara sisanya masih dalam proses pencarian.
Ungkapan “Aceh seperti tsunami kedua” menunjukkan betapa dalamnya luka kolektif masyarakat.