nasional

Irjen Pol Midi Siswoko dan AM Putut Prabantoro Sepakat Integritas dan Center of Gravity Kepolisian Ada pada Nilai-Nilai Dasar

Selasa, 21 Oktober 2025 | 13:56 WIB
Irjen Pol Midi Siswoko dan AM Putut Prabantoro Sepakat Integritas dan Center of Gravity Kepolisian Ada pada Nilai-Nilai Dasar (Konsultan Komunikasi Strategis AM Putut Prabantoro saat menyampaikan pembekalan pada Acara Pembekalan Penulisan Manuskrip sebagai Tugas Akhir Pasis Akpol Angkatan 57, di Auditorium Paramartha Akpol, Semarang, Senin (20/10/2025).)

Kebenaran yang menjadi center of gravity (pusat kekuatan) Polri terdapat dalam Tri Brata nomer 2 (dua), dan di dalam Catur Prasetya nomer 3 (tiga) perlu diketahui masyarakat.

Yakni, “Menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945“, dan ’Menjamin kepastian berdasarkan hukum“.

Melihat dinamika kepercayaan masyarakat terhadap Polri, menurut Putut Prabantoro, intitusi penegak hukum ini perlu melakukan Redefining dalam manajemen media mengingat pada saat ini komunikasi tidaklah mudah karena begitu banyak kanal yang digunakan.

Selain itu, kesulitan komunikasi bertambah karena masing-masing kanal memiliki generasi sendiri dan memerlukan cara komunikasi, konten dan konteks yang berbeda dalam penyajiannya.

Baca Juga: Daster Naik Kelas Jadi Fashion Elegan, Kisah Findy Melalui UMKM Binaan BRI 'Findmeera' Wujudkan Pemberdayaan Perempuan dari Rumah

”Yang paling penting apapun bentuknya, sebuah media memerlukan reader, follower, subscriber. Sebaik apapun sebuah tulisan ataupun video jika tidak dibaca atau dilihat dan tidak memiliki dampak, tidak ada gunanya. Reader, follower dan subscriber adalah netizen cerdas yang mampu menghadirkan informasi sesuai kebutuhannya. Netizen ini yang menentukan bahwa sebuah informasi adalah sampah atau tidak berdasarkan persepsi, interpretasi dan perspektifnya,” ujarnya.

Dijelaskan lebih lanjut, seberapa banyak follower atau subscriber ditentukan oleh konten yang dibungkus dalam isu.

Yang tidak boleh dilupakan, kehebatan & kekuatan konten, isu dan opini publik membutuhkan teknologi untuk men-delivery pesan kepada netizen.

Persepsi dan perspektif netizen dapat menjadikan komen sebuah konten terlepas dari konteks. Sehingga jangan heran jika sebuah komen terlepas dari konten dan konteks sebuah informasi.

Pada akhirnya yang terjadi adalah, jempol ( komen netizen) lebih tajam daripada guillotine.

Terkait bagaimana sebuah berita menjadi trending topic, Putut melihat hal itu dipengaruhi oleh isu yang diangkat.

Baca Juga: Kejagung Amankan Aset Berupa Tanah dan Bangunan Milik Riza Chalid, Bukti Lanjutan Kasus Korupsi Kilang Minyak Pertamina Triliunan Rupiah

Berita boleh sama, yang membedakan adalah isu dan bentuk penyajian yang oleh Putut disebut dengan istilah bahasa.

Sedangkan isu akan dikemas dengan judul yang memancing persepsi dan interpretasi dari perspektif orang yang melihat atau membacanya.

“Polri memiliki semuanya, SDM, jaringan, teknologi, hingga finansial. Itu semua modal untuk membuat konten sesuai konteks, dan terakhir dikomunikasikan lewat medsos yang ada seperti Youtube, Facebook, Instagram, TikTok, Podcast, dan sebagainya, semuanya untuk menciptakan tone positif Polri,” tutup Putut Prabantoro.***

Halaman:

Tags

Terkini