nasional

Over Populasi Meong! Pemprov DKI Wacanakan Pulau Kucing di Kepulauan Seribu Untuk Relokasi

Minggu, 1 Juni 2025 | 15:47 WIB
Sejumlah kucing liar di jakarta diambil Satpol PP Pemprov DKI Jakarta (Pemprov DKI)

KLIK SAJA - Jakarta saat ini tengah menghadapi persoalan yang tidak biasa namun cukup mencolok: over populasi kucing liar.

Di berbagai sudut kota, mulai dari gang sempit hingga taman-taman umum, mudah ditemukan kucing-kucing yang berkeliaran tanpa pemilik.

Diperkirakan jumlah populasi kucing liar di Jakarta sudah mencapai kurang lebih 700.000 ekor.

Fenomena ini menimbulkan dilema—di satu sisi, banyak cat lover yang dengan tulus merawat dan memberi makan mereka.

Namun, di sisi lain, tak sedikit warga yang mengeluh karena kotoran kucing di sembarang tempat, gangguan suara, hingga potensi penyebaran penyakit zoonosis seperti toksoplasmosis dan ringworm.

Sebagai respons atas masalah ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewacanakan ide yang cukup unik dan belum pernah ada sebelumnya di Indonesia: pembuatan "Pulau Kucing" di Kepulauan Seribu.

Ide ini diungkapkan langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menyebut bahwa proyek ini masih dalam tahap wacana.

"Itu kan baru wacana. Kita lihat sendiri di Jakarta ini banyak kucing-kucing liar, walaupun sebenarnya ada komunitas yang merawat," ujar Rano, yang akrab disapa Bang Doel, di Jakarta Utara, Sabtu (31/5/2025).

Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yang dikenal sebagai pecinta kucing, disebut menjadi penggagas ide ini.

Ia menyatakan bahwa daripada kucing-kucing liar itu diburu atau disingkirkan secara tidak manusiawi, lebih baik jika ada tempat khusus yang menjadi habitat mereka.

"Kemarin Pak Gubernur ini kan pencinta kucing. Dia bilang, 'Wah, daripada mungkin diburu atau bagaimana, boleh juga kita tempatkan di Pulau Kucing,’" kata Rano menirukan Pramono.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa wacana ini bukan keputusan final dan perlu kajian lebih lanjut dari berbagai aspek, termasuk etika, ekologi, kesehatan hewan, dan anggaran.

Wacana ini pun memicu perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian mendukung karena dinilai sebagai solusi kreatif dan ramah hewan.

Namun, sebagian lagi mengkritik karena dianggap tidak menyentuh akar persoalan—yaitu kurangnya program steril kucing liar serta edukasi kepada masyarakat soal adopsi dan tanggung jawab memelihara hewan.

Halaman:

Tags

Terkini