Organisasi ini menjadi tonggak penting dalam menyebarluaskan pencak silat ke dunia internasional.
Ia menjadi Ketua Presidium pertama PERSILAT dan mendorong penyelenggaraan kejuaraan internasional pertama di Jakarta (1982), yang kemudian berkembang ke berbagai negara seperti Austria, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Di bawah kepemimpinannya, PERSILAT dan IPSI bekerja sama dengan pemerintah dan kedutaan besar Indonesia di berbagai negara untuk mendirikan organisasi pencak silat nasional di Australia, Eropa, hingga Amerika.
Bahkan, pencak silat secara resmi dipertandingkan pertama kali di SEA Games 1987 Jakarta, sebuah pencapaian besar yang mempercepat penyebaran olahraga ini ke seluruh Asia Tenggara.
Tidak hanya itu, Nalapraya juga menginisiasi pembangunan Padepokan Pencak Silat Indonesia di TMII, yang kini menjadi pusat pelatihan, kompetisi, dan pertukaran budaya bagi pendekar-pendekar dari dalam dan luar negeri.
Padepokan ini diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1997, simbol betapa pentingnya pencak silat bagi Indonesia.
Meski berkali-kali menyatakan keinginan untuk mundur sejak awal 1990-an, loyalitas dan kepercayaan dari komunitas pencak silat membuat Nalapraya terus dipilih kembali memimpin IPSI dan PERSILAT hingga awal 2000-an.
Pengabdian dan ketulusan beliau membuat namanya menjadi legenda yang dihormati lintas generasi.
Wafatnya Eddie Nalapraya adalah kehilangan besar bagi dunia olahraga, khususnya pencak silat.
Namun, warisan perjuangannya akan terus hidup dalam semangat ribuan pendekar di seluruh dunia yang kini bisa menyebut pencak silat sebagai bagian dari identitas global.
Berkat visinya, seni bela diri warisan leluhur ini bukan hanya bertahan, tapi berjaya di panggung dunia.
Selamat jalan, Bapak Pencak Silat Dunia. Jasa dan perjuanganmu akan selalu dikenang***.