nasional

Mengungkap Fakta Aliran Sesat Franky Monim di Papua: Mengaku Tuhan dan Ritual Telanjang

Minggu, 11 Mei 2025 | 22:15 WIB
Franky Monim, pemimpin aliran sesat di Jayapura (berbagai sumber)

KLIK SAJA - Masyarakat Indonesia kembali diguncang oleh munculnya sebuah kelompok yang diduga sebagai aliran sesat di Genyem, Kabupaten Jayapura, Papua.

Kelompok ini dipimpin oleh seorang pria bernama Franky Monim (FM), yang belakangan diketahui menyebarkan ajaran menyimpang yang tidak hanya mencederai nilai-nilai agama, tetapi juga merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.

Pusat aktivitas kelompok ini awalnya berlokasi di sebuah pondok sederhana yang berdiri mencurigakan di belakang SMA Negeri 1 Nimboran.

Warga mulai curiga dan melaporkan aktivitas yang dianggap tidak lazim itu. Pada awal April 2025, sejumlah pemuda Kampung Kobain turun langsung ke lokasi, dan sejak itulah fakta-fakta mencengangkan mulai terkuak.

Menurut Kapolres Jayapura, AKBP Umar Nasatekay, Franky Monim memimpin sebuah ritual keagamaan yang dilakukan pada malam hari.

Di mana ibadah tersebut disusupi praktik menyimpang berupa hubungan seksual antar pengikut, seperti ritual telanjang hingga pertukaran pasangan—praktik yang jelas-jelas melanggar norma agama, hukum, dan budaya masyarakat Papua.

Lebih mengejutkan lagi, dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, Franky Monim tanpa ragu mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

Klaim ini tentu menimbulkan kegelisahan serius di tengah masyarakat religius Papua, yang selama ini hidup dengan nilai-nilai keimanan yang kuat.

Setelah aksi mereka terbongkar dan mendapat penolakan keras dari warga setempat, kelompok ini kabur ke Sorong.

Informasi dari kepolisian menyebutkan bahwa kelompok ini berjumlah sekitar 20 orang, namun sebagian besar kini telah menghilang, diduga menyebar dan menyembunyikan diri.

Tidak hanya mengklaim sebagai Tuhan, FM juga mengaku bisa menyembuhkan orang sakit—klaim yang sering digunakan kelompok sesat untuk menipu dan menarik pengikut dari kalangan masyarakat yang rentan.

Ibadah mereka, yang dijanjikan bisa membawa kesembuhan, justru menjadi dalih untuk melakukan tindakan asusila yang mengabaikan norma hukum dan agama.

AKBP Umar menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak akan tinggal diam. Ia mengimbau masyarakat Papua, dan Indonesia pada umumnya, untuk terus waspada terhadap ajaran-ajaran menyimpang.

“Jika ada aktivitas mencurigakan di sekitar lingkungan, segera laporkan kepada aparat. Kita tidak boleh memberikan ruang pada kelompok-kelompok yang merusak moral masyarakat,” tegasnya.

Halaman:

Tags

Terkini