nasional

Menag: Banyak Mengaku Ulama, Tapi Minim Pengetahuan Agama

Jumat, 13 Desember 2024 | 19:37 WIB
Menag Nasaruddin Umat saat pengukuhan Kader ULama Istiqlal (Kemenag)

KLIK SAJA -  Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa dalam masyarakat Indonesia, banyak orang mengaku ulama dengan hanya bermodalkan kartu nama, namun sangat minim pengetahuan agamanya.

Perihal tersebut Menag sampaikan saat membuka Wisuda dan Pengukuhan Kader Ulama Masjid istiqlal ke-1 2024 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Pernyataan beliau seolah menyindir isu hangat tentang kasus video viral ulama yang berkata dengan perkataan tak terpuji dan merendahkan orang lain.

Baca Juga: Menag: Pentingnya Perjuangan Kolektif Bela Hak Rakyat Palestina

“Tidak punya kapasitas. Hanya modalnya cetak kartu nama, sudah modal haji, kyai haji, dan lantas menggunakan pakaian sorban, sangat-sangat berwibawa. Padahal background-nya sangat-sangat minim. Jadilah ulama besar dalam masyarakat kita,” ungkap Menag Nasaruddin, Kamis (12/12/2024).

“Apa jadinya masyarakat Indonesia kalau guru agama Islamnya tidak capable. Maka otomatis umatnya pun juga tidak akan menjadi umat yang maksimum. Karena itu, Pendidikan Kader Ulama Akan kita jadikan semacam standar,” jelasnya.

Pendidikan Kader Ulama-Masjid Istiqlal (PKU-MI) memberikan beasiswa jenjang magister dan doktoral bekerja sama dengan Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Beasiswa ini diperuntukan bagi kader-kader calon ulama dan dipusatkan di Masjid Istiqlal.

Sosok yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengungkapkan harapannya yang sangat besar kepada para wisudawan-wisudawati.

“Kalian adalah sarjana pertama (alumni PKU-MI pertama - red) yang dicetak oleh Indonesia. Jangan sampai mengecewakan Indonesia. Tapi kalian kebanggaan bahwa semenjak ada Pendidikan Kader Ulama, maka semenjak itu ada perkembangan baru dalam dunia intelektual muslim di Indonesia,” tegasnya.

Para wisudawan-wisudawati ini telah menyelesaikan program pendidikan formal setingkat magister di universitasnya masing-masing, dan menempuh short course selama 3-6 bulan di Amerika Serikat, Maroko, atau Mesir dalam program PKU-MI.

Diharapkan kelak kasus ulama yang berperilaku tidak terpuji tidak terulang kembali, dan dijadikan pembelajaran bagi kita bersama.

Dimana kehadiran ulama adalah sebagai penyejuk atau oase kerohanian bagi masyarakat luas dalam membentuk kerukunan umat.***

 

Tags

Terkini