KLIK SAJA - Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, menceritakan secara blak-blakan bagaimana respons Presiden Prabowo Subianto saat pertama kali mengetahui kondisi keuangan Garuda Indonesia yang sempat berada di situasi kritis.
Menurutnya, Presiden sempat terkejut ketika ia memaparkan sejumlah masalah serius yang dihadapi oleh maskapai pelat merah tersebut.
“Misi pertama saya waktu itu adalah memberikan laporan ke pimpinan. Pada saat saya memberikan laporan pertama, memang kondisi keuangan dan armada (fleet) Garuda cukup mengkhawatirkan. Saya harus segera mencari pendanaan, dan Alhamdulillah, dukungan dari pemerintah—khususnya dari Bapak Presiden—sangat luar biasa kepada Garuda,” ujar Wamildan dalam wawancara di kanal YouTube Rhenald Kasali, Selasa (14/10/2025).
Meski sempat terkejut, Prabowo dikatakan tetap tenang dan langsung memberikan dukungan penuh.
Namun, Presiden juga menekankan agar Garuda segera melakukan perbaikan menyeluruh dan efisiensi di berbagai lini. “Perintah beliau jelas, pendanaan akan segera didukung, tapi kami juga diminta mengambil langkah-langkah perbaikan dan efisiensi,” tutur Wamildan.
Ia menjelaskan, secara historis, arus kas (cashflow) Garuda Indonesia biasanya menurun di pertengahan tahun karena tingginya biaya perawatan armada.
Namun, berkat berbagai langkah efisiensi yang telah dijalankan, kondisi keuangan Garuda kini mulai membaik. “Kita sudah melaksanakan sejumlah langkah efisiensi, dan Alhamdulillah, sekarang kita masih bertahan dengan posisi kas yang cukup kuat. Cashflow kita tidak negatif,” paparnya optimistis.
Dengan situasi yang berangsur pulih, Wamildan menegaskan bahwa Garuda kini fokus menuju operasional yang berkelanjutan.
Terlebih, maskapai ini telah mendapatkan suntikan dana sebesar Rp6,6 triliun dari Danantara, yang menjadi fondasi penting untuk memperkuat struktur keuangan dan memperluas layanan.
Dalam lima tahun ke depan, Garuda menargetkan pangsa pasar domestik meningkat dari 30 persen menjadi 50 persen, dengan rencana penambahan sekitar 120 pesawat baru.
“Saat ini, Garuda dan Citilink baru menguasai sekitar 30 persen pasar domestik. Target kita adalah mencapai 50 persen dalam lima tahun ke depan, seiring dengan penambahan armada baru,” jelasnya.
Namun, di balik semangat pemulihan itu, kondisi Garuda Indonesia tetap perlu menjadi perhatian besar pemerintah.
Maskapai nasional ini bukan hanya perusahaan penerbangan biasa, tetapi juga simbol prestise Indonesia di mata dunia internasional.
Karena itu, banyak pihak menilai perlu dilakukan audit besar-besaran dan menyeluruh terhadap kondisi keuangan serta tata kelola Garuda Indonesia.