KLIK SAJA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami fenomena kemarau basah pada tahun 2025.
Artinya, meskipun secara kalender musim sudah memasuki kemarau, hujan masih tetap berpotensi turun di berbagai wilayah.
Kondisi ini memberikan dinamika tersendiri, terutama bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini tidak akan berlangsung lama dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2025.
Ia juga menekankan bahwa kemarau tahun ini tidak seragam waktunya di seluruh Indonesia.
“Karena luasnya wilayah Indonesia, musim kemarau datangnya tidak bersamaan,” ujarnya dalam wawancara bersama Pro 3 RRI pada Sabtu (31/5/2025).
Menurut BMKG, wilayah Sumatera sudah lebih dahulu memasuki kemarau sejak Mei, sementara daerah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan segera menyusul.
Namun yang menarik, meski telah memasuki musim kemarau, hujan masih terjadi. Inilah yang disebut sebagai fenomena kemarau basah—kondisi di mana udara masih mengandung banyak uap air sehingga hujan tetap turun meskipun di musim kemarau.
“Terjadi penumpukan uap air di Indonesia dan akan jatuh sebagai hujan,” kata Guswanto.
Ia juga menekankan bahwa kemarau basah ini bersifat musiman, berbeda dari perubahan iklim yang bersifat jangka panjang dan permanen.
Fenomena serupa juga pernah tercatat pada tahun 2013 dan 2023.
Salah satu konsekuensi dari kemarau pendek ini adalah munculnya fenomena bediding, yaitu suhu yang sangat dingin di malam hari dan panas terik di siang hari.
Meski memberikan tantangan, kemarau basah juga membawa potensi besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Kalau dikelola dengan baik, petani bisa menanam padi hingga tiga kali dalam setahun,” ujarnya. Ini tentu menjadi kabar baik bagi sektor pertanian, yang selama ini sangat bergantung pada kondisi cuaca.