KLIK SAJA - Covid-19 kembali menunjukkan tren peningkatan signifikan di sejumlah negara Asia.
Negara-negara seperti Hong Kong, Singapura, Tiongkok, dan Thailand kini menghadapi gelombang baru infeksi yang memicu kekhawatiran, terutama karena menurunnya kekebalan populasi dan rendahnya cakupan vaksin booster.
Hong Kong mencatat lonjakan tajam dalam kasus parah dan kematian akibat Covid-19. Dalam sepekan terakhir hingga 3 Mei 2025, tercatat 31 kematian dari 81 kasus parah, mayoritas di antaranya adalah lansia berusia di atas 65 tahun.
Tingkat infeksi melonjak drastis dari 1,7% menjadi 11,4% hanya dalam beberapa minggu.
Pemantauan air limbah juga menunjukkan beban virus yang tinggi, menandakan penyebaran luas di komunitas.
Anak-anak, yang sebagian besar belum menerima vaksin, juga mulai terinfeksi dalam jumlah besar.
Singapura mengalami peningkatan mingguan kasus hingga 28%, dengan sekitar 14.200 kasus dalam sepekan hingga awal Mei.
Meskipun angka rawat inap naik menjadi 133 per hari, jumlah pasien ICU tetap stabil. Varian dominan saat ini adalah LF.7 dan NB.1.8, yang merupakan turunan dari varian JN.1.
Lonjakan ini lebih disebabkan oleh penurunan kekebalan, bukan karena munculnya varian baru yang lebih berbahaya.
Tiongkok juga melaporkan peningkatan kasus, terutama yang menunjukkan gejala mirip flu. Tingkat positif Covid-19 dalam kasus flu meningkat dari 7,5% menjadi 16,2%, menjadikan virus ini sebagai penyebab utama flu saat ini.
Meski belum menyebabkan lonjakan kasus parah, para ahli menilai ini akibat antibodi masyarakat yang menurun sejak gelombang sebelumnya hampir setahun lalu.
Thailand pun tidak luput. Pasca perayaan Songkran, terjadi lonjakan infeksi dan muncul dua klaster baru.
Pemerintah Thailand mendesak warganya untuk segera mendapatkan vaksinasi ulang guna memperkuat kekebalan tubuh.
Lonjakan ini disebabkan oleh beberapa factor seperti menurunnya kekebalan alami dan vaksin di masyarakat.