Peringati Hari Buruh, Presiden Prabowo Siap Dukung Marsinah Jadi Pahlawan Nasional

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 1 Mei 2025 | 14:21 WIB
Marsinah, ikon perjuangan kaum buruh (USU)
Marsinah, ikon perjuangan kaum buruh (USU)

KLIK SAJA - Peringatan Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2025 menjadi momen bersejarah bagi kalangan pekerja di Indonesia.

Pada pidatonya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan dukungannya terhadap penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah, seorang aktivis buruh yang gugur dalam perjuangan menegakkan hak-hak pekerja.

"Para tokoh serikat pekerja menyampaikan kepada saya, kenapa tidak ada pahlawan nasional dari kaum buruh," ungkap Prabowo.

Menanggapi hal itu, Presiden meminta satu nama yang mewakili aspirasi buruh. Para pimpinan serikat pun mengusulkan Marsinah—aktivis buruh asal Sidoarjo yang meninggal secara tragis pada 1993.

Marsinah lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969. Ia bekerja di pabrik arloji PT Catur Putra Surya di Sidoarjo.

Meski hanya seorang buruh pabrik, Marsinah dikenal vokal dan berani dalam memperjuangkan kenaikan upah serta kondisi kerja yang layak bagi rekan-rekannya.

Pada awal Mei 1993, ia memimpin aksi menuntut hak-hak buruh sebelum akhirnya hilang dan ditemukan tewas pada 8 Mei 1993.

Kasus kematiannya pun hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar dan menjadi simbol kelamnya represi terhadap gerakan buruh.

Hingga kini kasusnya belum ditemukan titik terang walaupun sudah berganti-ganti presiden.

Presiden Prabowo menyatakan kesediaannya mendukung pengusulan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, asalkan didukung oleh seluruh serikat pekerja.

"Asal itu menjadi aspirasi seluruh kaum buruh, saya akan mendukung Marsinah menjadi Pahlawan Nasional," tegasnya.

Pentingnya pengakuan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap keberaniannya, tetapi juga sebagai simbol keberpihakan negara terhadap perjuangan kaum pekerja.

Selama ini, narasi kepahlawanan nasional didominasi oleh tokoh-tokoh militer, politikus, atau tokoh elite lainnya.

Penganugerahan ini tentunya akan menjadi preseden bahwa perjuangan dari kalangan proletar pun layak dihormati dan dikenang secara nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X