Memaknai Hari Raya Galungan, Menghilangkan Sifat Negatif Manusia

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 23 April 2025 | 11:49 WIB
Umat Hindu Bali Rayakan Galungan (Banteng Muda Indonesia)
Umat Hindu Bali Rayakan Galungan (Banteng Muda Indonesia)

KLIK SAJA - Setiap enam bulan sekali menurut kalender Bali, umat Hindu di Bali dan seluruh Indonesia merayakan Hari Raya Galungan.

Tahun ini, Galungan jatuh pada Rabu, 23 April 2025, disambut dengan penuh khidmat dan sukacita.

Hari Raya Galungan sendiri bukan sekadar hari besar keagamaan, tetapi juga momen spiritual mendalam yang mengajak umat manusia merefleksikan kehidupan dan memperbaiki diri dari sifat-sifat negatif yang melekat dalam keseharian.

Rangkaian perayaan Galungan dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, dan salah satu tahapan penting adalah Penampahan Galungan, yang dilaksanakan sehari sebelum Galungan, yaitu pada Selasa Wage Wuku Dungulan—kali ini bertepatan dengan 22 April 2025.

Di hari inilah umat Hindu melakukan aktivitas nampah atau memotong hewan yadnya seperti babi, ayam, atau itik, sebagai bagian dari ritual penyucian diri dan rumah.

Hewan-hewan ini tidak sekadar dipotong untuk kebutuhan kuliner, melainkan sebagai persembahan suci (yadnya) yang dilandasi ketulusan dan pengabdian spiritual.

Menurut lontar Sundarigama, Penampahan Galungan merupakan simbol penetralisasi kekuatan negatif yang disebut sebagai Sang Hyang Kala Tiga—yakni Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amangkurat.

Ketiganya diyakini sebagai manifestasi energi negatif yang membawa pengaruh buruk seperti kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan kemalasan dalam kehidupan manusia.

Jika tidak dikendalikan, kekuatan ini dapat menggoda manusia, menjerumuskannya dalam konflik batin dan penderitaan.

Melalui prosesi Penampahan, umat Hindu diajak untuk mengalahkan sifat-sifat adharma (kejahatan atau keburukan) dalam diri sendiri.

Nampah bukan hanya soal ritual fisik, tapi juga simbol dari “memotong” atau mengakhiri kecenderungan negatif dalam jiwa manusia.

Inilah esensi sejati dari Galungan: kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (keburukan).

Momentum Galungan mengajarkan bahwa peperangan sejati bukanlah melawan orang lain, tetapi melawan diri sendiri—ego, nafsu, dan pikiran negatif.

Maka dari itu, selain mempersiapkan sarana upacara seperti banten dan sesajen, umat juga mempersiapkan hati dengan introspeksi dan permohonan maaf kepada sesama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X